MOTIVASI DAN KEPUASAN KERJA
1.1. Pengertian Motivasi
Kerja dan Kepuasan kerja
MOTIVASI
KERJA
Menurut Luthan (1992) Motivasi berasal dari
kata latin movere, artinya
“bergerak”. Motivasi merupakan suatu proses yang dimulai dengan adanya
kekurangan psikologis atau kebutuhan yang menimbulkan suatu dorongan dengan
maksud mencapai suatu tujuan atau insentif. Pengertian proses motivasi ini
dapat dipahami melalui hubungan antara kebutuhan, dorongan dan insentif
(tujuan). Motivasi dalam dunia kerja adalahsuatu yang dapat menimbulkan
semangat atau dorongan kerja. Menurut As’ad (2004) motivasi kerja dalam psikologi
karya biasa disebut pendorong semangat kerja. Kuat dan lemahnya motivasi
seseorang tenaga kerja ikut menentukan besar kecilnya prestasinya.
Menurut Munandar (2001) motivasi kerja
memiliki hubungan dengan prestasi kerja. Prestasi kerja adalah hasil dari
interaksi anatar motivasi kerja, kemampuan, dan peluang.
Bila kerja rendah, maka prestasi kerja akan
rendah meskipun kemampuannya ada dan baik, serta memiliki peluang. Motivasi
kerja seseorang dapat bersifat proaktif atau reaktif. Pada motivasi yang proaktif
à seseorang akan berusaha meningkatkan
kemampuan-kemampuannya sesuai dengan yang dituntut oleh pekerjaanya atau akan
berusaha untuk mencari, menemukan atau menciptakan peluang dimana ia akan
menggunakan kemampuan-kemampuannya untuk dapat berprestasi tinggi. Sebaliknya
motivasi yang bersifat reaktif à cenderung menunggu
upaya ata tawaran dari lingkunganya
Menurut Martoyo (2000) motivasi kerja adalah
suatu yang menimbulkan dorongan atau semangat kerja. Menurut Gitosudarmo dan
Mulyono (1999) motivasi adalah suatu faktor yang mendorong seseorang untuk
melakukan suatu perbuatan atau kegiatan tertentu, oleh karena itu motivasi
sering kali diartikan pula sebagai faktor pendorong perilaku seseorang.
Motivasi dan dorongan kepada karyawan untuk bersedia bekerja bersama demi
tercapainya tujuan bersama ini terdapat dua macam yaitu :
1. Motivasi Finansial à
dorongan yang dilakukan dengan memberikan imbalan finansial kepada karyawan.
2. Motivasi nonfinansial à
dorongan yang diwujudkan tidak dalam bentuk finansial/uang, akan tetapi berupa
hal-hal seperti penghargaan, pendekatan manusia dan lain – lain.
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
motivasi pada dasarnya adalah kondisi mental yang mendorong dilakukannya suatu
tindakan (action atau activities)dan memberikan kekuatan yang
mengarahkan kepada pencapaian kebutuhan, memberi kepuasan ataupun mengurai
ketidakseimbangan.
KEPUASAN
KERJA
Dikemukan oleh Robbin (2001) bahwa kepuasan
kerja adalah sikap yang umum terhadap suatu pekerjaan seseorang, selisih antara
banyaknya ganjaran yang diterima seorang pekerja dan banyaknya yang mereka
yakini seharusnya mereka terima. Pendapat lain bahwa kepuasan kerja merupakan
suatu sikap yang dimiliki oleh para individu sehubungan dengan jabatan atau
pekerjaan mereka (Winardi,1992). Selain itu pendapat Indrawidjaja (2000) bahwa
kepuasan kerja secar umum menyangkut berbagai hal seperti kognisi, emosi, dan
kecenderungan perilaku seseorang. Adapun yang menentukan kepuasan kerja adalah
:
1. Kerja yang secara mental menantang pegawai yang cenderung
menyukai pekerjaan yang memberikan kesempatan menggunakan keterampilan dan
kemampuan dalam bekerja
2. Gagasan yang pantas pegawai menginginkan sistem upah/gaji
dan kebijakan promosi yang asil, tidak meragukan san sesuai dengan pengharapan
mereka.
3. Kondisi kerja mendukung pegawai peduli lingkungan kerja
baik untuk kenyamanan pribadi maupun untuk memudahkan mengerjakan tugas yang
baik
4. Rekan sekerja yang mendukung adanya interaksi sosial
antara sesama pegawai yang saling mendukung meningkatkan kepuasan kerja
5. Jangan melupakan kesesuaian antara kepribadian pekerjaan,
Holand dalam Robbin (2001) mengungkapkan bahwa kecocokan yang tinggi antara
kepribadian seorang pegawai dan pengharapan akan menghasilkan individual yang
lebih terpuaskan
6. Ada dalam gen bahwa 30% dari kepuasan individual dapat
dijelaskan oelh keturunan.
Dalam mengelola personalia (Kepegawaian)
harus senantiasa memonitor kepuasan kerja, karena hal itu mempengaruhi tingkat
absensi, perputaran tenaga kerja, semangat kerja, keluhan dan masalah
personalia vital lainnya (Handoko,2000). Oleh karena itu fungsi personalia
emmpunyai pengaruh baik langsung maupun tidak langsung, selain itu berbagai
kebijakan dalam kegiatan personalia berdampak pada iklim organisasi memberikan
suatu lingkungan kerja yang menyenangkan maupun tidak menyenangkan bagi anggota
organisasiyang akhirnya memenuhi kepuasan kerja anggota organisasi.
2.2.
Teori – teori tentang Motivasi Kerja
Adapun ulasan teorinya adalah sebagai berikut
:
TEORI
DISPOSISIONAL MOTIVASI KERJA
a.
Teori Hirarki Kebutuhan Maslow
Menurut teori Maslow, setiap
kebutuhan harus dipenuhi sebelum memotivasi perilaku berikutnya; dalam situasi
kerja, ini berarti bahwa orang-orang mengerahkan usaha untuk mengisi kepuasan
kebutuhan yang terendah.
1) Physiological needs
(kebutuhan bersifat biologis) àsuatu
kebutuhan yang sangat mendasar. Contohnya: kita memerlukan makan, air, dan
udara untuk hidup. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang sangat primer, karena
kebutuhan ini telah ada sejak lahir. Jika kebutuhan ini tidak dipenuhi, maka
individu berhenti eksistensinya.
2) Safety needs (kebutuhan
rasa aman) àkebutuhan
untuk merasa aman baik secara fisik maupun psikologis dari gangguan. Apabila
kebutuhan ini diterapkan dalam dunia kerja maka individu membutuhkan keamanan
jiwanya ketika bekerja.
3) Social needs
(kebutuhan-kebutuhan sosial) àManusia
pada dasarnya adalah makhluk sosial, sehingga mereka memiliki
kebutuhan-kebutuhan sosial
4)
Esteem
needs (kebutuhan akan harga diri) àPenghargaan
meliputi faktor internal, sebagai contoh, harga diri, kepercayaan diri,
otonomi, dan prestasi; dan faktor eksternal. Dalam dunia kerja, kebutuhan harga
diri dapat terungkap dalam keinginan untuk dipuji dan keinginan untuk diakui
prestasi kerjanya.
5) Self Actualization àKebutuhan akan aktualisasi
diri, termasuk kemampuan berkembang, kemampuan mencapai sesuatu, kemampuan
mencukupi diri sendiri. pada tingkatan
ini, contohnya karyawan cenderung untuk selalu mengembangkan diri dan berbuat
yang terbaik.
Teori Maslow telah
dipublikasikan lebih dari setengah abad yang.Itu adalah penelitian yang cukup
menarik minat pada saat itu, namun ketertarikan ini hampir seluruhnya mati beberapa
tahun lalu disebabkan adanya nonsupport untuk proposisi dasar.Di antara
praktisi manajer, mahasiswa, dan banyak konsultan manajemen, bagaimanapun,
"segitiga Maslow" telah sangat influental.
b. Teori ERG Alderfer
Sebuah teori motivasi kerja
didasarkan pada hirarki kebutuhan Maslow, tetapi menggabungkan perubahan
penting, diusulkan oleh Alderfer. Teori ERG mengadakan hipotesis tiga set
kebutuhan mulai dari yang paling tinggi ke paling konkret (dasar).
Existence (E)àmerupakan kebutuhan akan
substansi material, seperti keinginan untuk memperoleh makanan, air, perumahan,
uang, mebel, dan mobil. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan fisiological dan rasa
aman dari Maslow.
Relatedness (R)àmerupakan kebutuhan untuk
memelihara hubungan antarpribadi yang penting. Individu berkeinginan untuk
berkomunikasi secara terbuka dengan orang lain yang dianggap penting dalam
kehidupan mereka dan mempunyai hubungan yang bermakna dengan keluarga, teman
dan rekan kerja. Growth (G) àmerupakan
kebutuhan-kebutuhan yang dimiliki seseorang untuk mengembangkan kecakapan
mereka secara penuh. Selain kebutuhan aktualisasi, juga termasuk bagian
intrinsik dari kebutuhan harga diri Maslow.
Menurut ERG Theory, jika
upaya untuk memenuhi kebutuhan pada satu level itu secara terus menerus
mengalami frustasi, individu mungkin mengalami kemunduran (jatuh lagi) kepada
perilaku kebutuhan yang lebih konkret.
c.
Teori
Dua Faktor Herzberg
Penelitian Herzberg
menghasilkan dua kesimpulan khusus mengenai teori tersebut yaitu:
1) Serangkaian kondisi
ekstrinsik àkondisi
kerja ekstrinsik seperti upah dan
kondisi kerja tersebut bersifat ekstren tehadap pekerjaan sepeti: jaminan
status, prosedur, perusahaan, mutu supervisi dan mutu hubungan antara pribadi
diantara rekan kerja, atasan dengan bawahan.
2) Serangkaian kondisi
intrinsik àkondisi
kerja intrinsik seperti tantangan pekerjaan atau rasa berprestasi, melakukan
pekerjaan yang baik, terbentuk dalam pekerjaan itu sendiri. Faktor-faktor dari
rangkaian kondisi intrinsik dsebut pemuas atau motivator yang meliputi:
prestasi (achivement), pengakuan (recognation), tanggung jawab
(responsibility), kemajuan (advencement), dan kemungkinan berkembang (the
possibility of growth).
d. Teori Motivasi Berprestasi McClelland
Menurut David McClelland (dalam
Anoraga & Suyati, 1995) ada tiga macam motif atau kebutuhan yang relevan
dengan situasi kerja, yaitu:
1) The need for achievement
(nAch), yaitu kebutuhan untuk berprestasi, untuk mencapai sukses.
2) The need for power (nPow), kebutuhan untuk
dapat memerintah orang lain.
3) The need for affiliation (nAff), kebutuhan
akan kawan, hubungan akrab antar pribadi.
Karyawan yang memiliki nAch
tinggi lebih senang menghadapi tantangan untuk berprestasi dari pada
imbalannya. Perilaku diarahkan ke tujuan dengan kesukaran menengah. Karyawan
yang memiliki nPow tinggi, punya semangat kompetisi lebih pada jabatan dari
pada prestasi. Ia adalah tipe seorang yang senang apabila diberi jabatan yang
dapat memerintah orang lain. Sedangkan pada karyawan yang memiliki nAff tinggi,
kurang kompetitif. Mereka lebih senang berkawan, kooperatif dan hubungan antar
personal yang akrab.
TEORI KOGNITIF MOTIVASI
KERJA
a.
Teori
Penetapan Tujuan
Teori ini dikemukakan oleh
Locke (dalam Berry, 1998). Locke berpendapat bahwa maksud-maksud untuk bekerja
kearah suatu tujuan merupakan sumber utama dari motivasi kerja. Artinya, tujuan
memberitahukan karyawan apa yang perlu dikerjakan dan betapa banyak upaya akan
dihabiskan.
Lima komponen dasar tujuan
untuk meningkatkan tingkat motivasi karyawan, yaitu:
(1) tujuan
harus jelas (misalnya jumlah unit yang harus diselesaikan)
(2) tujuan
harus mempunyai tingkat kesulitan menengah sampai tinggi
(3) karyawan
harus menerima tujuan itu
(4) karyawan
harus menerima umpan balik mengenai kemajuannya dalam usaha mencapai tujuan
tersebut
(5) tujuan
yang ditentukan secara partisipasif lebih baik dari pada tujuan yang ditentukan
begitu saja.
b. Teori Keadilan (Equilty Theory)
Teori keadilan dari Adam
menunjukkan bagaimana upah dapat memotivasi. Individu dalam dunia kerja akan
selalu membandingkan dirinya dengan orang lain. Apabila terdapat ketidakwajaran
akan mempengaruhi tingkat usahanya untuk bekerja dengan baik. Ia membuat
perbandingan sosial dengan orang lain dalam pekerjaan yang dapat menyebabkan
mereka merasa dibayar wajar atau tidak wajar. Perasaan ketidakadilan
mengakibatkan perubahan kinerja. Menurut Adam, bahwa keadaan tegangan negatif
akan memberikan motivasi untuk melakukan sesuatu dalam mengoreksinya.
2.3.
Faktor
– Faktor yang mempengaruhi Motivasi dan Kepuasan Kerja
Adapun yang menjadi
faktornya adalah sebagai berikut :
a. Pekerja
itu sendiri( Work It Self)à setiap pekerjaan memerlukan
suatu keterampilan tertentu sesuai dengan bidangnya masing-masing
b. Atasan
(Supervisor)à atasan yang baik berarti
mau menghargai pekerjaan bawahannya
c. Teman
sekerja (Workers)àfaktor yang menghubungkan
pegawai dengan pegawai atau pegawai dengan atasannya, baik yang sama ataupun
yang beda pekerjaannya
d. Promosi
(Promotion) àfaktor yang berhubungan
dengan ada tidaknya kesempatan untuk memperoleh peningkatan karier selam
bekerja
e. Gaji/upah
(Pay) à aktor pemenuhan kebutuhan hidup pegawai yang
dianggap layak atau tidak

makasih kaka.. :D
BalasHapusthanks mba sangat bermanfaat bagi saya
BalasHapusoke alfira dan Lutfi, senang bisa membantu. semoga bermamfaat banyak. Maaf baru bisa membalas blog nya sekarang hehe :)
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusmba, bisa tolong lampirkan daftar pustakanya? terima kasih :)
BalasHapusini referensinya ya : Jewell, L.N. 1998. Contemporary Industrial/Organizational Psychology. Brooks/Cole Publishing Company.
Hapuskak izin copas sebagian dan sumberna ya kak buat tugas, makaish banyak kak
BalasHapusterimakasih banyak ya kak, artikelnya sangat membantu saya:)
BalasHapusMy blog