DAYA TARIK INTERPERSONAL : Pertemanan dan Cinta
Hubungan
pertemanan dan cinta adalah dua fenomena sosial yang sangat kuat yang dekat
dengan hidup manusia. Karena itulah hubungan pertemanan dan cinta telah menjadi
salah satu topik penting yang sering dibahas para psikolog sosial. Pada
kesempatan ini, kami akan membahas hal-hal yang memengaruhi persepsi kita atas
sesama kita, peran proses atribusi dalam persepsi seseorang, kualitas orang
lain yang menarik bagi kita, dan faktor-faktor yang berperan dalam
mempertahankan hubungan pribadi.
1. PROCESS
OF PERSON PERCEPTION
Persepsi
Individu adalah proses membentuk kesan terhadap orang lain.
a.
Proses
Atribusi dalam Persepsi Manusia
Kita
menilai orang lain berdasarkan apa yang mereka buat dan mengapa mereka
berperilaku demikian. Sayangnya, kita menilai alasan orang lain berperilaku
demikian menurut pendapat kita sendiri dengan menganggap remeh akibatnya pada
situasi sosial dan terlalu membesar-besarkan pentingnya karakteristik pribadi
mereka. Contoh: Ketika kita bertemu seseorang di sebuah pesta yang kelihatannya
depresi, kita akan beranggapan bahwa dia adalah pribadi yang selalu menyedihkan
daripada berasumsi bahwa biasanya dia adalah orang yang ceria namun sesuatu hal
membuat dia sedih malam ini. Sebaliknya, kita akan menghubungkan perilaku
negatif diri sendiri dengan pengaruh situasi sosial. Contohnya: Ketika saya
diundang ke sebuah pesta beberapa tahun yang lalu, saya mendapati diri saya
merasa malu berada di antara orang-orang kaya yang berpenghasilan miliyaran per
bulannya. Saya mengasingkan diri saya dan berpendapat bahwa situasi sosial di
mana saya harus berhadapan dengan orang-orang tersebut telah membuat saya
merasa malu, tetapi apabila saya melihat orang lain berperilaku demikian di pesta
yang saya hadiri, saya mungkin akan langsung menilai orang tersebut sebagai
seorang yang pemalu. Seorang psikolog sosial, Fritz Heider (1958) menamakan
fenomena ini sebagai fundamental attribution error, yang artinya kecenderungan
kita menganggap remeh efek situasi terhadap perilaku orang lain dan
membesar-besarkan efeknya ke diri kita sendiri. Attribution adalah proses
membuat penilaian tentang apa yang membuat seseorang berperilaku demikian. Hal
yang paling penting dalam proses ini adalah membuat keputusan apakah seseorang
berperilaku demikian karena adanya pengaruh eksternal (situational attribution)
atau karena adanya motif internal atau trait (dispositional attribution). Kita
sering menghubungkan perilaku orang dengan dispositional attribution kecuali
adanya perubahan-perubahan yang konsisten pada perilaku dalam situasi tertentu.
Karena kita kurang mempunyai informasi mengenai perubahan tersebut, akibatnya
kita terlalu sering melakukan dispositional attribution.
b.
Informasi
Negatif: Yang Buruk Melampaui Yang Baik
Dalam
mempersepsi orang lain, kita melalui proses “cognitive algebra”, yang di
dalamnya terdapat beberapa faktor yang lebih berkontribusi daripada yang lain.
Kita cenderung lebih memperhatikan informasi negatif daripada informasi
positif. Coba tempatkan diri Anda dalam situasi ini: Anda adalah orang yang
sangat suka pada kehangatan, daya tarik fisik, dan kejujuran. Anda bertemu
seseorang di kelas yang menurut Anda sangat hangat dan menarik, Anda
terlibat dalam percakapan yang menyenangkan dengan dia, tetapi di tengah
percakapan, dia meminta Anda untuk membantunya memikirkan sebuah alasan ketika
pacarnya menanyakan keberadaannya. Pendapat Anda tentang dia mungkin akan
menjadi sangat negatif jika kejujuran benar-benar penting bagi Anda. Fakta bahwa
dia tidak jujur dengan pacarnya akan menutupi karakter dia yang
positif. Contoh lainnya, sebagian besar dari kita tidak akan makan kue yang
tampak lezat jika kita tahu kue itu mengandung sedikit racun tikus, walaupun
hanya sedikit.
c.
“Chemistry”
pada Cinta dan Ikatan Sosial
Berbicara
tentang 'chemistry', kita biasanya mengacu pada perasaan sesuatu tentang
seseorang, proses jatuh cinta, sesuatu yang sangat kuat namun tidak dapat
disentuh jari kita. Sebagian besar penelitian mengatakan bahwa ada zat kimia
yang sangat mempengaruhi proses 'chemistry'.
Meskipun buktinya masih tentatif, tampak
bahwa orang yang berkeringat menghasilkan hormon seks steroid, khususnya
androstadien. Ketika perempuan menghasilkan hormon ini saat bersama laki-laki,
mood mereka menjadi baik dan bagian pada otak yang terlibat dalam emosi
diaktifkan. Tidak jelas apakah hormon seks memiliki efek cukup kuat untuk
mempengaruhi daya tarik seksual, tetapi studi-studi awal menunjukkan
kemungkinan itu.
Ada bukti lebih kuat bahwa bahan kimia peptida
ditemukan di otak dan aliran darah, oksitosin memainkan peran penting dalam
menciptakan ikatan cinta, apakah itu antara orangtua dengan anak atau antar
pasangan romantis. Kedekatan dan sentuhan fisik melepaskan oksitosin di otak.
Oksitosin akan menciptakan ketenangan, keamanan, dan kesejahteraan, dan
mengurangi respon dari cabang saraf pusat dan perifer dari sistem saraf untuk
menekan respon fisik dan emosi positif yang dapat dikondisikan pada orang lain
dan menghasilkan ikatan antara dua orang. Selain itu, hal positif yang
ditimbulkan oleh oksitosin membuat orang melakukan pendekatan fisik lebih
lanjut, yang nantinya akan memperkuat ikatan. Jadi, bagian dari apa yang kita
alami sebagai cinta tampaknya berawal dari suatu bahan kimia yang menenangkan otak,
tubuh dan mood.
2. CHARACTERISTIC
OF THE OTHER PERSON IN INTERPERSONAL ATTRACTION
a. Karakteristik yang Mirip dan Saling
Melengkapi
Umumnya,
kemiripan adalah daya tarik yang sangat penting. Kita akan cenderung sangat
tertarik pada orang yang memiliki kesamaan dengan kita baik hobi, sikap maupun
minat. Meskipun demikian, perbedaan juga dapat menjadi menarik. Perbedaan
disini yaitu karakteristik yang berlawanan dengan karakteristik yang kita
miliki. Perbedaan ini akan memiliki daya tarik bila karakteristik yang
berlawanan ini dapat melengkapi karakteristik kita atau cocok dengan salah satu
karakteristik kita.
Misalnya, Ana adalah seorang yang pendiam dan
Ana merasa tertarik dengan pria yang ramah. Ana merasa bahwa dia sebagai
pendengar yang baik akan cocok bersama dengan pria yang suka bicara daripada
dengan pria yang pendiam seperti dirinya. Ana juga berpendapat bahwa dia akan
lebih mudah untuk berinteraksi dengan orang lain bila bersama dengan pria yang
ramah. Demikian juga, seseorang yang dominan akan mungkin lebih tertarik pada
orang yang submisif/ penurut.
Ketika ada seseorang yang menyukai kita namun
karakteristiknya berlawanan dengan diri kita, maka kondisi ini juga dapat
menimbulkan daya tarik. Akan menyenangkan bila kita disukai oleh seseorang yang
justru berbeda dengan kita. Tetapi yang perlu diingat bahwa karakteristik yang
berlawanan bisa menjadi tidak menarik dalam hubungan pribadi. Contohnya, orang
yang religius tidak akan tertarik pada orang-orang yang menghina agamanya.
b. Kompentensi dan “Ideal Self” Kita
Kita
akan cenderung lebih tertarik pada orang yang ahli/ berkompeten daripada orang
yang tidak berkompeten. Kemampuan intelegensi, kekuatan, kemampuan sosial,
pendidikan, dan-lain-lain, umumnya dianggap sebagai suatu daya tarik. Tetapi
orang yang terlihat terlalu kompeten/ ahli akan kehilangan daya tariknya,
karena kita merasa tidak nyaman bila dibandingkan dengannya.
Umumnya, kita cenderung tertarik pada orang
yang punya kualitas sama dengan “ideal self” kita. Namun di sisi lain, kita
juga cenderung menyukai seseorang yang tidak terlalu sempurna karena kita
cenderung tidak suka bila ada orang yang lebih bisa mirip dengan ideal self
kita dibandingkan diri kita sendiri.
c. Daya Tarik Fisik
Daya
tarik fisik cukup mempengaruhi ketertarikan antar pribadi. Orang-orang cenderung lebih tertarik pada orang yang
fisiknya cantik dan indah. Kita cenderung lebih menyukai orang yang
cantik/tampan sebelum mengetahui bagaiman orang itu sebenarnya. Kita cenderung
menilai bahwa orang yang cantik/tampan itu lebih baik, lebih mudah beradaptasi,
lebih pintar dan sensual. Daya tarik fisik merupakan faktor paling penting
dalam tahapan awal suatu daya tarik.
Pada suatu penelitian yang dilakukan oleh
Elaine Walster dan rekannya, mereka memasangkan mahasiswa pria dan wanita
secara acak untuk berkencan. Mereka menilai daya tarik fisik yang dimiliki
setiap mahasiswa dan memberi tes untuk mengukur sikap, intelegensi, dan
karakteristik kepribadian masing-masing mahasiswa. Setelah saling berkencan,
mahasiswa-mahasiswa tersebut ditanya mengenai seberapa jauh mereka menyukai
pasangan kencannya dan apakah mereka berniat untuk berkencan lagi. Ternyata
pasangan yang saling menyukai dan ingin berkencan lagi adalah mahasiswa yang
menilai pasangannya sebagai orang yang menarik.
Terdapat eksperimen lain yang cukup
menguatkan pengaruh daya tarik fisik ini. Dalam suatu studi mengenai cara orang
berkenalan, subjeknya terdiri dari mahasiswa pria dan wanita. Mahasiswa pria
diminta untuk berkenalan dengan wanita melalui telepon (untuk mengesampingkan
adanya komunikasi nonverbal) dan setiap pria diberi foto dan informasi mengenai
wanita yang diteleponnya. Para wanita dalam studi ini dipasangkan secara acak
dengan pria yang meneleponnya dan tidak diberi foto maupun informasi mengenai
pria yang meneleponnya. Informasi yang dilihat masing-masing pria itu semuanya sama, namun sebagian pria
diberi foto wanita yang sangat menarik dan sebagian lagi diberi foto wanita
yang kurang menarik.
Setelah mereka berkenalan dan mengobrol di
telepon, para pria yang mengira mereka sedang
berbicara dengan wanita cantik menilai wanita tersebut lebih ramah,
tenang, dan lucu daripada pria yang mengira mereka sedang berbicara pada wanita
yang tidak menarik. Sama halnya dengan penelitian sebelumnya bahwa dengan daya
tarik fisik yang lebih besar akan menyebabkan seseorang menjadi lebih disukai.
Peneliti menemukan bahwa pria yang mengira
mereka sedang berbicara dengan wanita cantik akan lebih ramah dan hangat ketika
berbicara denga wanita itu dan lebih menikmati percakapan itu. Jadi, bila pria
mempersepsi atau menganggap bahwa wanita itu cantik maka pria itu akan menjadi
lebih menarik dan mempesona terhadap wanita itu.
Peneliti juga menemukan bahwa wanita yang
berbicara dengan pria yang menganggap wanita itu cantik, maka wanita itu akan
berbicara lebih percaya diri, menawan, dan terlihat menyukai pria itu. Jadi,
ketika pria menganggap wanita itu cantik maka wanita itu akan bertindak lebih
menyenangkan.
Namun orang-orang sebenarnya cenderung
mencari pasangan yang sesuai atau setara tingkat daya tarik fisiknya dengan
dirinya sendiri. Keindahan fisik merupakan sesuatu yang sangat subjektif. Jadi
ketika kamu berpikir bahwa seseorang itu tidak cantik, mungkin akan ada orang
lain yang menganggap orang itu cantik. Memang benar bahwa kita lebih menyukai
seseorang bila menurut kita orang itu cantik, namun seiring kita semakin
mengenal dan menyukai pasangan kita, kita akan mulai berpikir bahwa pasangan
kita lebih cantik.
Komentar
Posting Komentar