Perkembangan Kognitif Dewasa Awal
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang Masalah
Perkembangan
merupakan langkah awal ciri makhluk hidup mencapai kesetaraan normal dengan
sesamanya. Terutama pada manusia,sebagai makhluk hidup yang kompleks,
perkembangan secara fisik dan mental merupakan satu indikator untuk menilai
taraf kualitas normalnya. Hal ini dikarena segala aspek hidup manusia baik
secara kognitif, emosional, fisik, moral dan lain sebagainya merupakan hal yang
dasar digunakan manusia untuk menjalani kehidupan sehari-hari.
Perkembangan
kognitif dan moral adalah suatu perkembangan yang tidak dapat dilihat secara
langsung dan tidak mutlak bersifat empiris. Perkembangan kognitif dan moral
yang akan membentuk kepribadian seseorang juga akan berkontribusi besar dalam
penyelesaian masalah dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai
manusia yang berada pada tahap dewasa dini, yakni berumur 20 – 40 tahun,
manusia akan mengalami banyak perkembangan seiring dengan bertambahnya
pengetahuan yang didapat, pengalaman terdahulu, lingkungan, bahkan
kecenderungan hereditas. Hal ini lah yang akan membedakan satu manusia dengan
manusia yang lain.
Pada
tahap dewasa dini ada beberapa hal yang pada umumnya berkembang secara general
pada manusia dan hal ini lah yang akan menjadi patokan untuk melihat sejauh apa
manusia yang berada pada tahap dewasa dini sudah berkembang secara moral dan
kognitif.
Dengan berkembangnya teori, para
teoritikus dan peneliti telah mempelajari kognisi dewasa dari berbagai
persfektif. Beberapa peneliti menyatakan bahwa orang dewasa berpikir dengan
cara yang berbeda dengan yang dilakukan oleh anak-anak dan remaja seperti yang
dilakukan Piaget. Peneliti yang lain seperti Schaie mengidentifikasi kognitif
orang dewasa dalam kapasitas tertentu yang timbul dalam kehidupannya atau cara
tertentu yang orang dewasa lakukan untuk mencapai tingkatan kehidupan.
Sedangakan Robert Sternberg fokus kepada tipe atau aspek kecerdasan, yang
diabaikan oleh tes psikometris, yang cenderung mengemukakan pada masa dewasa.
1.2.
Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan
perkembangan kognitf?
2. Bagaimana perkembangan kognitif
yang terjadi pada tahap dewasa dini?
3. Apa yang terjadi terhadap pemikiran
orang dewasa dini dan inteligensinya?
4. Bagaimana perkembangan moral
berkembang?
5. Bagaimana seorang dewasa dini
bertransisi ke jenjang pendidikan dan pekerjaan yang lebih tinggi?
6. Bagaimana dampak
pengalaman-pengalaman yang sudah terjadi terhadap perkembangan kognitif
afektif?
7. Bagaimana seorang dewasa dini bertransisi
di tempat kerja?
1.3.
Tujuan
1. Agar dapat mengerti apa yang
dimaksud dengan dewasa dini.
2. Agar dapat mengerti bagaimana
kognitif pada tahap dewasad ini berkembang.
3. Agar dapat mengetahui bagaimana
kognitif dan pengalaman berhubungan dengan inteligensi untuk memecahkan masalah
sehari-hari.
4. Agar dapat mengetahui esensi dan
perkembangan moral pada tahap dewasa dini.
5. Agar mengetahui bagaimana seorang
dewasa dini mampu bertransisi di tempat kerja dan perkuliahan.
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
.PERKEMBANGAN
KOGNITIF
2.1.1. Beyond
Piaget : New Ways of Thinking in Adulthood
Beberapa riset dan karya teoritis menyatakan
perubahan dalam kognisi jauh lebih luas daripada hanya sekedar manipulasi
intelektual abstrak yang digambarkan Piaget. Penelitian lain setuju dengan postformal thought, dimana
dikombinasikan antara logika, emosi dan pengalaman nyata dalam menyelesaikan
lebih dari satu masalah. Sehingga penalaran formal (Formal Reasoning) bukan hanya satu-satunya, dan bahkan mungkin
bukan yang paling penting, dalam kemampuan berpikir dewasa.
Reflective
thinking atau berpikir
reflektif adalah berpikir logis yang muncul pada masa dewasa melibatkan
evaluasi terhadap informasi dengan mempertimbangkan bukti-bukti yang mendukung
(usia 20 dan 25 tahun).
Postformal
Thought atau pemikiran
pascaformal adalah berpikir matang yang bergantung pada pengalaman subjektif,
intuisi serta logika yang berguna dalam menghadapi ambiguitas, ketidakpastian,
ketidakkonsistenan dan ketidaksempurnaan, sebagaimana yang dilakukan Arthur
Ashe ketika berhadapan dengan batasan kemampuan yang berkaitan dengan
kemampuannya di bidang tennis.
Pemikiran postformal bersifat
relatif. Pemikiran ini melihat bayangan abu-abu, sebagai respon terhadap
peristiwa dan interaksi serta membuka cara pandang berbeda terhadap sesuatu dan
menantang pandangan sederhana terpolarisasi terhadap dunia.
Jan
Sinnott (1984,1998) salah seorang periset terkenal, mengemukakan beberapa
kriteria pemikiran postformal. Sebagai berikut :
1.
Shifting gears (fleksibel) à kemampuan untuk maju dan mundur
antara pemikiran abstrak dengan pertimbangan praktis dan nyata (“mungkin diatas
kerta ini bekerja, tetapi tidak di dunia nyata”)
2.
Problem definition à kemampuan untuk
mengidentifikasikan suatu masalah dengan mengkategorikannya dan mendefenisikan
cangkupannya. (“ini merupakan masalah etis, bukan legal, sehingga presiden
secara hokum tidak akan membantu masalah ini”)
3.
Process-product shift à kemampuan melihat bahwa suatu
masalah dapat di selesaikan baik dengan pendekatan umum, atau solusi konkret
terhadap masalah khusus (“saya pernah menemui masalah seperti ini sebelumnya, an beginilah saya
menyelesaikannya” atau “dalam hal ini, solusi terbaik adalah….”)
4.
Pragmatism à kemampuan untuk memilih yang terbaik
dari beberapa kemungkinan solusi dan menyadari kriteria pemilihan tersebut
(“jika anda menginginkan solusi yang mudah gunakan ini, jika anda ingin solusi
yang cepat gunakan itu”)
5.
Multiple solution à menyadari bahwa banyak masalah
memiliki lebih dari satu alasan, dimana seseorang tersebut mungkin memiliki
tujuan yang berbeda pula, sehingga banyak metode yang digunakan untuk lebih
dari satu solusi (“mari kita coba dengan caramu, jika tidak berhasil, kita
dapat menggunakan caraku”)
6.
Awareness of paradox à menyadari bahwa masalah atau
solusi mengandung konflik inheren (“melakukan hal ini akan memberikan apa yang
diinginkannya,tetapi akhirnya hanya akan membuatnya bersedih”)
7.
Self-referential thought à kesadaran seseorang bahwa dia
harus memutuskan logika mana yang akan digunakan
Salah satu studi (Labouvie-Vief,
Adams, Hakim-Larson, Hayden,& DeVoe, 1987) meminta orang-orang dari
praremaja sampai usia tengah baya memerhatikan masalah berikut ini :
John adalah seorang pemabuk parah,
terutama ketika pesta. Mary, istrinya, memperingatkannya bahwa apabila John
mabuk lagi, maka ia akan membawa anak-anak meninggalkannya. John kembali mabuk
sepulang pesta kantor. Apakah Mary akan meninggalkannya?
Praremaja dan remaja awal akan
menjawab “ya”. Remaja yang lebih dewasa dan orang dewasa membawa dimensi
manusia ke dalam masalah tersebut : mereka menyadari Mary mungkin tidak akan
melakukan apa yang akan diancamkannya. Sebagian besar pemikir dewasa menyadari
ada sejumlah cara menginterpretasikan masalah yang sama, dan cara orang
memandang pertanyaan seperti diatas seringkali tergantung kepada pengalaman
hidupnya. Kemampuan untuk membayangkan beberapa jalan keluar hanya sebagian
yang terkait dengan usia. Orang dewasa berusia 40-an tidak selalu berpikir
lebih matang ketimbang orang dewasa berusia 20 tahun.
Namun,
pemikiran postformal terjadi ketika emosi dilibatkan didalamnya. Dalam studi
kasus tersebut, para partisipan diminta untuk menilai penyebab jalan keluar
terhadap serangkaian situasi hipotesis, seperti konflik perkawinan. Remaja dan
orang dewasa awal cenderung menyalahkan individu, sedangkan orang dewasa
pertengahan lebih suka menunjuk perilaku yang memainkan peran antara orang dan
lingkungan.
2.1.2.
Schaie : A Life-Span Model of
Cognitive Development
Peneliti yang mengajukan model
rentang kehidupan perkembangan kognitif adalah K. Warner Schaie (1977-1978;
Schaie & Willis, 2000) ditinjau dari perkembangan penggunaan intelek dengan
kontek sosial. Ada tujuh tahapan tersebut yaitu :
1.
Acquisitive stage (tahap pencarian) à tahap pertama dari tujuh tahap
kognitif Schaie, dimana anak dan remaja belajar informasi dan keterampilan
bertujuan, sebagian besar untuk diri mereka sendiri atau sebagai persiapan
berpartisipasi dalam masyarakat
Contoh
: Arthur Ashe, sebagai seorang anak laki-laki. Ashe mencapai pengetahuan dan
kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang petenis hebat
2. Achieving stage (tahap pencapaian) à tahap kedua dari tujuh tahap
kognitif Schaie, dimana pemuda menggunakan pengetahuan untuk mendapatkan
kompetensi dan independensi
Contoh
: dengan kemampuan dan pengetahuannya di bidang tennis, ia menang dalam
beberapa turnamen
3. Responsible stage (tahap
pertanggungjawaban) à
tahap ketiga dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang-orang paruh baya
menaruh perhatian pada target jangka panjang dan masalah praktis berkaitan
dengan tanggung jawab mereka terhadap orang lain
Contoh
: Ashe menjadi kapten dalam U.S. Davis Cup team, sehingga memiliki tanggung
jawab dalam perkumpulan pemain tennis
4. Executive stage (tahap eksekutif) à tahap keempat dari tujuh tahap
kognitif Schaie, dimana orang-orang paruh baya bertanggung jawab terhadap
sistem sosial dan dengan relasi kompleks di beberapa level
Contoh
: selain kegiatan Ashe di bidang tennis, ia juga berperan sebagai ketua
Asosiasi Hati Nasional, sebagai direktur dalam suatu perusahaan, dan juga
beberapa program dalam tennis
5. Reorganizational stage (tahap
reorganisasi) à
tahap kelima dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang dewasa yang
memasuki masa pensiun mereorganisir kehidupan mereka seputar aktivitas bukan
kerja
Contoh
: menjadi ketua AIDS, bermain golf, penulis, kuliah, dan berakting sebagai
seorang pemerhati olahraga
6. Reintegrative stage (tahap
reintegratif) à
tahap keenam dari tujuh tahap kognitif Schaie, dimana orang dewasa yang lebih
tua memilih memfokuskan energinya yang terbatas pada tugas yang bermakna bagi
mereka.
Contoh
: akibat dari penakit yang Ashe derita, ia lebih memfokuskan diri unutk “go
public”
7. Legacy – creating stage (tahap
penciptaan warisan) à
tahap terakhir dari tahapan kognitif Schaie, dimana orang yang sudah tua
bersiap menghadapi kematian dengan merekam kisah hidup mereka, membagikan harta
Contoh
: perintis sebuah perusahaan pemerintah yang bergerak untuk penderita AIDS,
serta membagi pengalamannya sebagai seorang penulis keturunan America-Afrika.
Jika orang dewasa menggunakan
tahapan ini, kemudian test psikometri, dimana memakai jenis pengukuran
inteligen yang sama untuk seluruh periode kehidupan, mungkin tidak sesuai
dengan mereka. Sehingga kita memerlukan pengukuran yang tepat untuk menunjukkan
tantang kehidupan yang sebenarnya. Teori Robert sternberg mengambil bagian
dalam petunjuk ini.
2.1.3.
STERNBERG : INSIGHT AND KNOW-HOW
Menurut Teori yang dikemukakan oleh Sternberg (Papalia,dkk
; 2007) dalam diri manusia, terdapat experiential
element (kecerdasan menemukan ide kreatif) dan contextual element (kecerdasan penyesuaian diri terhadap masalah
praktikal). Kedua aspek tersebut adalah aspek yang tidak dicakup dalam tes
psikometri yang mengukur kecerdasan manusia. Banyak kasus yang ditemukan dalam
fenomena perkembangan pada masa dewasa dini yang mengindikasikan bahwa
perkembangan kognitif pada masa dewasa dini bukanlah hanya sebatas IQ yang
dalam alat tes. Dan juga IQ dan skor-skor tinggi yang dicapai secara akademis
belum pasti menjadi penentu bahwa seseorang tersebut akan menghasilkan performa
kerja yang baik ketika sudah bekerja.
Hal
ini dapat dilihat pada kasus Alix, Barbara dan Courtney yang telah
menyelesaikan program sarjana dari Universitas Yale (Papalia,dkk ; 2007).
Disebutkan bahwa selama masa perkuliahan, Alix merupakan siswa yang cukup
diperhitungkan prestasi akademisnya dan berskor tinggi dalam Ujian Akhir
Sarjana dan mendapat rekomendasi pekerjaan yang banyak. Sedangkan Barbara hanya
mendapat nilai rata-rata bahkan meraih skor rendah dalam Ujian Akhir Sarjanan
namun yang terjadi ialah ia mendapat begitu banyak pujian dan rekomendasi atas
penelitian dan ide kreatifnya. Courtney juga memperoleh skor-skor yang lumayan
bagus walaupun bukan yang tertinggi.
Ternyata
ketika Alix, Barbara dan Courtney sudah mulai mengecap dunia pekerjaan, hal
yang terjadi adalah kebalikan dari performa inteligensi yang diraih secara
akademis. Barbara mendapat rekomendasi yang sangat baik dan diakui integritasnya
atas kreatifitasnya. Courtney juga merupakan salah seorang yang paling cepat
mendapat perkejaan walaupun ia tidak mencapai peringkat tertinggi. Sedangkan
Alix ternyata hanya baik dalam nilai akademis namum tidak dalam pekerjaannya.
Hal
ini lah yang menjadi contoh dalam experiential
element (kreatifitas) dan contextual
element (kecerdasaan praktikal). Ketika seseorang memasuki masa dewasa
dini, ia akan dinilai secara alami yaitu
bagaimana dia menemukan solusi secara praktikal dan bagaimana ia mencapai
tujuan dengan hal yang berbeda (kreatifitas). Dalam masa ini, pemikiran yang
sempit seperti pemikiran pada masa sekolah akan mengalami perubahan yang
drastis. Penilaian bukan lagi dari penilaian akademis, melainkan bagaimana
seseorang individu itu memecahkan masalah yang ada dengan cepat. Dan hal itu,
terdapat dalam kecerdasaan yang disebutkan dalam teori Sternberg.
AGE-RELATED CHANGES IN INTELLIGENCE
Kemampuan memecahkan masalah dan memproduksi pemikiran yang
kreatif juga dipengaruhi oleh faktor usia. Menurut Sterberg, Wagner, Williams
& Horvath (Papalia,dkk ; 2007) kecerdasaan tersebut akan stabil sampai pada
masa midlife dan setelah itu akan
mengalami penurunan. Kemampuan praktikal juga dipengaruhi oleh pengalaman
seseorang dalam menghadapi masalah dalam hidup. Maka semakin seseorang tersebut
naik ke masa lebih tinggi, maka diduga orang tesebut semakin kapabel dalam
menemukan solusi dalam masalah yang praktikal didalam hidup. Keceradasaan
praktikal merupakan prediktor terbaik dalam mengukur kesehatan fisik dan
mental.
TACIT KNOWLEDGE
Taccit knowledge adalah kemampuan yang ada dalam
diri seseorang secara inplisit dan tidak secara formal diajarkan atau dibukakan
secara langsung. Taccit knowledge terdiri
dalari self-management (kemampuan
untuk motivasi dan mengorganisir waktu dan energi) , management of tasks (kemampuan untuk mengetahui bagaimana
mengejakan suatu tugas) , management of
others (kemampuan untuk memuji dan mengkritik sesuatu). Taccit knowledge sekilas terlihat
seperti bertolak belakang dengan IQ. Hal ini dikarenakan bahwa taccit knowledge seakan keluar dengan
sendiri dari dalam diri orang yang mengalaminya.
Contohnya
adalah perawat amatir yang menolong orang yang terluka ditengah jalan dengan
ras betul-betul ingin menolong dengan perawat yang sudah berpengalaman merasa
biasa-biasa saja. Hal perawatan terhadap orang yang terluka ini tidak jauh
berda. Perawat amatir dan berpengalaman tersebut tidak jauh beda yaitu
sama-sama mengobati. Yang menjadi pembeda adalah ketika perawat amatir tersebut
mampu menggunakan perasaannya and intuisinya dalam menentukan bagaimana harus
bertindak dan kemampuan yang telah dipelajari, yang dipadu dengan cara yang interaktif.
2.1.4.
EMOTIONAL INTELLIGENCE
Emotional inteligence adalah kercedasan seseorang untuk
mengerti dan mengatur emosi yang merupakan komponen yang sangat penting dalam
kecerdasaan berperilaku. Emotional
intelligece merupaka hal yang berbeda dengan IQ.Kecerdasaan ini adalah
kecerdasaan yang menjelaskan bagaimana seseorang merasa, mengelola perasan,
berempati, optimis, memiliki motivasi, dan berkompetensi dalam sosial. Menutu
Daniel Goleman, kesuksesann yang diraih manusia kebanyakan bukan karena
tingginya IQ melainkan kecerdasan emosional.
Dalam
masa dewasa dini, yang juga merupakan masa seseorang mulai beradaptasi dengan
dunia kerja, memilih pasangan, dan menjadi orang tua, kecerdasaan emosional
memegang peraasaan yang sangat krusial. Dalm penelitian Goleman, didapatkan
data bahwa 500 koorporasi yang sukses berskor tinggi dalam hal kecerdasaan
emosional. Kecerdasaan emosional (emotional
intelligence) terlihat memberi kontribusi yang sangat banyak kepada
performa afektif pada perkerjaan. Dengan hal ini, dapat dilihat juga bahwa
kecerdasaan emosi berkaitan dengan tacit intelligence.
Namun
tidak semua hal yang dikontrol dengan kecerdaasaan emosi itu baik. Karena emosi
hanyalah bagian dari traits. Contoh
rasa marah dapat membangun perilaku ke arah yang positif dan juga negatif. Maka
semua pengelolaan emosi yang terjadi pada masa dewasa dini juga menjadi
indikator seseorang akan tetap akan berintegritas atau tidak Semua berpusat
pada kematangan psikologi dalam mengelola emosi tersebut.
2.2.Perkembangan
Moral
Dewasa awal (20-40tahun) adalah masa
peralihan dari masa remaja. Menurut tahap penalaran moral Kohlberg, dewasa awal
terletak pada level III yaitu moralitas post-konvensional. Orang-orang pada
level ini menyadari konflik antara standar moral dan membuat keputusan sediri
berdasarkan prinsip hak, kesetaraan, dan keadilan. Kesadaran kognitif terhadap
prinsip moral yang berkembang pada masa remaja biasanya baru dilaksanakan pada
masa dewasa awal ini. Dua pengalaman yang memacu perkembangan moral pada masa
dewasa awal adalah yang pertama, menghadapi nilai yang bertentangan dengan
nilai yang sudah dianut dirumah, contohnya dalam menghadapi perbedaan antara
peraturan yang berlaku diasrama dengan yang ada dirumah. Yang kedua, menghadapi
pengalaman dalam bertanggung jawab terhadap kesejahteraan orang lain, contohnya
dalam berumah tangga.
Pengalaman menjadi pembelajaran bagi
oranga dewasa untuk mengevaluasi kembali hal yang benar dan salah. Sebagian
orang dewasa menjadikan pengalaman personal, pengalaman yang pernah dialami,
sebagai alasan jawaban mereka terhadap dilema moral. Contohnya, saya pernah mengalami
bagaimana takutnya mengedarai mobil dari les mengemudi dijalan raya ketika
masih belajar. Karena takut saya pelan-pelan membawanya sehingga orang yang
dibelakang mobil saya terus meng-klakson. Hal ini membuat saya semakin takut
dan cemas. Sekarang, ketika didepan saya ada mobil dari les mengemudi yang
menandakan ada orang yang sedang belajar, saya tidak akan meng-klaksonnya
karena saya tau dia pasti akan semakin takut dan cemas. Pengalaman seperti
sangat diwarnai oleh emosi, memicu pemikiran ulang dengan cara yang tidak bisa
dilakukan oleh diskusi impersonal, dan pengalaman ini lebih bisa membuat orang
melihat dari sudut pandang orang lain.
Tahapan kognitif dalam penilaian
moral itu bukanlah menjadi patokan yang utama. Seseorang yang pemikirannya
masih egosentrisme berkencederungan lebih kecil membuat keputusan moral.
Seseorang dengan pemikiran yang abstrak akan mencapai level tertinggi
perkembangan moralnya dengan menyatukan pegalaman da kognisinya. Pengalaman
akan menyiapkan orang dewasa dalam perubahan moral.
Kultur dan Perkembangan Moral. Kultur merupakan hal yang sangat berpegaruh dalam perkembagan moral
individu yang berada ditempat dimana kultur itu ada.
Gender dan Perkembangan Moral. Studi Kohlberg asalnya dilakukan pada anak laki-laki dan pria sehingga
Carol Gilligan berpendapat bahwa sistem Kohlberg memberikan tempat yang lebih
tinggi kepada nilai “maskulin” keadilan ketimbang nilai “feminin” perasaan
kasih sayang, tanggung jawab, dan perhatian, dan Ia juga berpendapat bahwa inti
dilema moral wanita adalah konflik antara kebutuhannya sendiri dengan kebutuhan
orang lain. Gilligan berkesimpulan wanita lebih sedikit berpikir tentang
keadilan abstrak dan kejujuran dibandingkan yang dilakukan oleh pria dan lebih
banyak memikirkan tanggung jawab mereka terhadap orang tertentu.
Level perkembangan moral Gilliga pada
wanita
|
Tahap
|
Deskripsi
|
|
Level 1 : Orientasi pada
kebertahanan hidup individual
|
Wanita berkonsentrasi pada dirinya sendiri--apa
yang praktis dan yang terbaik untuk dirinya
|
|
Transisi 1 : Dari egoisme kepada
tanggung jawab
|
Wanita menyadari hubungannya dengan
orang lain dan memikirkan apa pilihan bertanggung jawab yang akan diambil
dalam kerangka hubungannya dengan orang lain (termasuk janin yang
dikandungnya) sekaligus dengan dirinya sendiri
|
|
Level 2 : Kebaikan adalah
pengorbanan diri
|
Kebijakan kuno feminin menuntut
pengorbanan keinginan wanita itu sendiri demi keinginan orang lain—dan yang
akan dipikirkan orang lain terhadap dirinya. Dia menganggap dirinya
bertanggung jawab terhadap tindakan orang lain, dan pada saat yang sama
menanggung tanggung jawab orang lain terhadap pilihannya. Dia berada dalam
posisi bergantung kepada orang lain, salah satu sebabnya adalah karena usaha
tidak langsungnya menampakkan kontrol, sering berubah menjadi manipulasi dan
terkadang mengalami perasaan bersalah
|
|
Transisi 2 : Dari kebaikan pada
kebenaran
|
Wanita menilai keputusannya tidak
berdasarkan bagaimana orang lain akan bereaksi terhadap dirinya tetapi
berdasarkan keinginannya dan konsekuensi dari tindakannya. Dia mengembangka
penilaian baru yang mempertimbangkan keinginannya sendiri beserta keinginan
yang lain. dia ingin menjadi baik dengan bertanggung jawab kepada orang lain,
tapi juga ingin mejadi jujur denga bertanggung jawab dengan dirinya sendiri. Survival
return merupakan perhatian utamanya
|
|
Level 3 : Moralitas dan kekerasan
|
Dengan menjadikan tindakan tidak
menyakiti orang lain (termasuk dirinya sendiri) menjadi prinsip yang mengatur
semua penilaian moral dan tindakan, seorang wanita membangun ekualitas moral
antara dirinya dan orang lain dan kemudian menjadi mampu memperkirakan
tanggung jawab pilihan dalam sebuah dilema moral
|
|
|
|
Riset lain tidak menemukan perbedaan gender yang signifikan pada moral.
Satu analisis membandingkan 66 studi menemukan tidak ada perbedaan signifikan
dalam respon pria maupun wanita. Dalam beberapa studi dimana pria mendapatkan
nilai sedikit lebih tinggi, karena biasanya pria lebih berpendidikan dan
memiliki pekerjaan yang lebih baik dibandigkan wanita. Berbeda dengan analisis
113 studi. Walaupun para wanita lebih cenderung berpikir dalam kerangka
perhatian, dan pria lebih pada keadilan, perbedaan ini sangat kecil.
2.3.Pendidikan dan Pekerjaan
Tidak seperti generasi-generasi
muda sebelumnya, yang biasanya dapat dengan mudah bergerak dari sekolah ke
bekerja ke kemandirian finansial, banyak orang yang baru menginjak dewasa kini
tidak memiliki gambaran yang jelas tentang apa yang mereka lakukan 10 tahun
mendatang. Beberapa dari mereka, silih berganti antara kesempatan mengecap
pendidikan yang lebih tinggi dan bekerja; beberapa menjalani keduanya secara
bersamaan. Kebanyakan dari mereka yang tidak mendaftar perguruan tinggi atau
tidak menyelesaikannya, berhasil mendapatkan pekerjaan, tetapi banyak juga yang
kembali mengecap pendidikannya. Orang yang baru menginjak dewasa, 13% dari
populasi 16-24 tahun pada tahun 2003 lebih besar kemungkinannya menjadi miskin
daripada yang lain dalam kelompok usia tersebut.
Dalam
suatu penelitian longitudinal secara nasional terhadap 5464 orang dewasa awal,
sebanyak 77% laki-laki dan 82% perempuan telah menyelesaikan pendidikan mereka
pada usia 22 tahun, dan 15% laki-laki dan 22% perempuan melanjutkan kembali
pendidikan mereka. Di akhir usia 20-an, sebanyak 75% laki-laki dan perempuan
telah bekerja penuh waktu, tetapi 15% kembali ke rumah dimana mereka
menghabiskan masa kecilnya sebelum berusia 35 tahun.
Pilihan
pendidikan dan kejuruan setelah sekolah menengah atas dapat memberikan
kesempatan untuk pertumbuhan kognitif. Pemaparan kepada lingkungan pendidikan
dan pekerjaan baru merupakan kesempatan untuk menajamkan kemampuan,
mempertanyakan asumsi yang telah lama dianut, dan menemukan cara baru memandang
dunia. Bagi mahasiswa usia nontradisional (usia 25 tahun ke atas) , perkuliahan
dan tempat kerja dapat menghidupkan kembali keingintahuan intelektual,
meningkatkan peluang pekerjaan, dan meningkatkan keterampilan kerja.
2.3.1. Transisi Perguruan Tinggi
Perguruan
tinggi merupakan jalur penting menuju kedewasaan, meskipun merupakan salah satu
jalur dan baru belakangan ini menjadi pilihan yang paling umum. Antara tahun
1972-2001, sejumlah proporsi lulusan sekolah menengah atas di AS yang
melanjutkan ke perguruan tinggi bertambah dari 49% menjadi 64%. Mayoritas
mahasiswa S1 mendaftar ke institusi yang memberikan gelar dengan lama studi dua
hingga empat tahun, tetapi proporsi yang terus bertambah memilih menjalani
program perguruan tinggi paruh waktu atau mengikuti community college yang
berorientasi kejuruan dengan lama studi dua tahun.
Pendaftaran
perguruan tinggi di AS sedang pada rekor tertingginya yaitu 38% dari semua
populasi 18 hingga 24 tahun pada tahun 2003, yang sebagian besar berkat
pesatnya pertumbuhan angka mahasiswa perempuan. Pada tahun 1970, perempuan
lebih kecil kemungkinannya daripada laki-laki untuk melanjutkan ke perguruan
tinggi dan juga lebih kecil kemungkinan menyelesaikan studinya. Kini, walaupun
individu muda yang melanjutkan studi lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya,
partisipasi perempuan telah mengalahkan laki-laki., sehingga saat ini,
perempuan mencakup 56% dari mahasiswa S1. Perempuan juga memiliki angka pendaftaran lebih tinggi di Kanada, Prancis,
Italia, Jepang, Rusia, dan Inggris. Di AS, perempuan meraih lebih dari setengah
gelar sarjana (57%) dan gelar master (59%), serta nyaris setengah (46%) gelar
doktor. Perempuan masih lebih besar kemungkinan daripada laki-laki mengambil
jurusan bidang-bidang, seperti
pendidikan, keperawatan, sastra Inggris, dan psikologi.
Status
sosial ekonomi dan ras mempengaruhi akses menuju pendidikan perguruan tinggi.
Pada tahun 2001, 80% lulusan sekolah menengah atas dari keluarga berpenghasilan
tinggi, dibandingkan dengan hanya 44% dari keluarga yang berpenghasilan rendah,
mendaftar ke perguruan tinggi segera setelah sekolah menengah atas.
Menyesuaikan Diri dengan Dunia
Perguruan Tinggi
Banyak
mahasiswa baru yang kelimpungan dengan tuntutan-tuntutan perkuliahan. Dukungan
keluarga, baik financial maupun emosional, tampak menjadi faktor kunci dalam
penyesuaian diri, baik mahasiswa yang menempuh jarak jauh dari rumah dan bagi
yang menetap di daerah kampus. Mahasiswa yang mampu beradaptasi memiliki bakat
yang tinggi dan keterampilan memecahkan masalah yang baik, secara aktif
terlibat dalam studi dan lingkungan akademisnya, serta menikmati hubungan
dekat, tetapi mandiri dengan orang tua mereka, cenderung paling baik
menyesuaikan diri dan memetik keuntungan paling banyak dari kehidupan
perkuliahannya. Mahasiswa yang mandiri dan berorientasi pada prestasi cenderung
menunjukkan kinerja terbaik di kelasyang menekankan pada pembelajaran
arahan-mandiri, sementara mahasiswa yang bergantung pada orang lain dan mudah
beradaptasi dengan lingkungan, belajar lebih baik di lingkungan yang
terstruktur. Mampu membangun jaringan social dan akademis yang kuat di antara
teman sebaya dan instruktur juga merupakan hal yang penting.
Pertumbuhan Kognitif di Perkuliahan
Perkuliahan dapat menjadi periode
penemuan intelektual dan pertumbuhan pribadi, terutama dalam kemampuan verbal
dan kuantitatif, berpikir kritis, serta penelaran moral. Para mahasiswa berubah
sebagai respon terhadap:
1. Kurikulum, yang menyodorkan
berbagai wawasan dan cara berpikir baru
2. Mahasiswa lain yang menantang
pandangan dan nilai-nilai yang telah lama dianut
3. Budaya mahasiswa, yang berbeda
dengan budaya masyarakat luas
4. Anggota fakultas, yang memberika
panutan baru
Baik
berdaarkan keuntungan langsung dan jangka panjang, melanjutkan ke perguruan
tinggi, perguruan tinggi apapun, lebih penting daripada perguruan tinggi apa
yang diambil seseorang.
Pengalaman
perguruan tinggi dapat mengarah kepada perubahan fundamental dalam cara
berpikir mahasiswa. Dalam sebuah penelitian klasik, yang menjadi dasar bagi
penelitian mutakhir tentang pemikiran positif dan reflektif, William Perry
(1970) mewawancarai 67 mahasiswa Harvard
dan Radcliff sepanjang masa studi S1 mereka dan menemukan bahwa cara berpikir
mereka bergerak dari kekakuan ke fleksibilita dan akhirnya ke berbagai komitmen
yang dipilih secara bebas.
Berbagai organisasi mahasiswa juga
dapat berkontribusi pada pertumbuhan kognitif. Dalam sebuah eksperimen, suatu
diskusi kelompok kecil diadakan di antara 357 mahasiswa di universitas
terpilih. Tiap kelompok terdiri dari tiga mahaiswa kulit putih, dan mahasiswa
keempat, berkolaborasi dengan peneliti, kalau tidak berkulit putih, berkulit
hitam. Diskusi dimana mahasiswa kulit hitam berpartisipasi menghasilkan gagasan
yang lebih segar dan kompleks daripada diskusi yang partisipannya berkulit
putih.
Menyelesaikan
Perguruan Tinggi
Walaupun mendaftar perguruan tinggi
telah lazim di AS, tidak demikian dengan menyelesaikan perguruan tinggi. Hanya
1 dari 4 orang yang mendaftar perguruan tinggi, menerima gelar setelah 5 tahun.
Ini tidak berarti bahwa sisanya mengundurkan diri. Makin banyak mahasiswa, terutama
laki-laki, yang berkuliah lebih dari 5 tahun atau berpindah dari institusi 2
tahun ke institusi 4 tahun, menunjukkan konsistensi usaha mereka untuk
mendapatkan gelar.
Keputusan apakah seseorang
menyelesaikan kuliah atau tidak bukan hanya bergantung pada motivasi, bakat
akademis, persiapan, dan kemampuan untuk bekerja mandiri, tetapi juga pada
integritasi dan dukungan sosial: kesempatan bekerja, dukungan financial,
kecocokan dengan peraturan, kualitas interaksi social dan akademis, serta
kecocokan antara yang ditawarkan oleh perguruan tinggi dan apa yang mahasiswa
ingin dan butuhkan. Program-program intervensi bagi mahasiswa telah
meningkatkan angka kehadiran dengan menciptakan ikatan yang bermakna antara
mahasiswa dengan pengajar, menemukan kesempatan bagi mahasiswa untuk bekerja
sambil kuliah, memberikan bantuan akademis, dan membantu mahasiswa melihat
bagaimana perkuliahan dapat membawa mereka ke masa depan yang lebih baik.
Namun, penelitian lain belum secara
keseluruhan menemukan perbedaan gender yang
signifikan pada penalaran moral. Pada suatu analisis berskala besar, tidak
ditemukan perbedaan yang signifikan pada respons laki-laki dan perempuan
terhadap dilema sepanjang rentang kehidupan Kohlberg. Dalam penelitiannya
sendiri, Gilligan mendeskripsikan bahwa perkembangan moral pada laki-laki
maupun perempuan berevolusi melampaui penalaran abstrak. Gilligan menemukan
banyak orang pada usia du puluhan tidak puas dengan logika moral yang sempit
dan menjadi lebih mampu hidup dengan kontradiksi-kontradiksi moral. Dengan
demikian, tampaknya bila penelitian awal Gilligan mencerminkan sistem nilai
alternatif, penelitian tersebut tidak mengalami bias gender. Bersamaan dengan
itu, pemikiran Kohlberg dan Gilligan mencapai sebuah titik temu. Kedua teori
tersebut menempatkan tanggung jawab kepada orang lain di tingkat yang tertinggi dari pemikiran
moral. Keduanya mengenali pentingnya bagi kedua jenis kelamin tentang hubungan
dengan orang lain, belas kasihan, dan perhatian.
2.3.2 Memasuki Dunia Kerja
Pengaturan
dunia kerja semakin bervariasi dan stabil. Perubahan-perubahan ini, bersamaan
dengan pasar kerja yang semakin kompetitif dan tuntutan terhadap
keterampilan tenaga kerja yang makin
tinggi, membuat pendidikan dan pelatihan menjadi semakin vital. Pendidikan tinggi
memperluas kesempatan mendapatkan pekerjaan dan bayaran lebih besar dan meningkatkan
kualitas hidup jangka panjang bagi orang dewasa di penjuru dunia.
Pertumbuhan Kognitif pada Dunia
Kerja
Penelitian
telah memperlihatkan hubungan dua arah antara kompleksitas substansif(substantive
complexity) suatu pekerjaan, derajat pemikiran dan penilaian mandiri yang
dituntut pekerjaan tersebut, dan fleksibilitas seseorang dalam mengatasi
tuntutan kognitif.
Penelitian
otak telah memberikan pencerahan tentang bagaimana seseorang menghadapi
pekerjaan kompleks. Perkembangan lobus frontal yang utuh semasa dewasa awal
dapat menyiapkan seseorang mengatasi beberapa tugas bersamaan. Pencitraan
resonansi magnetik menunjukkan bahwa kebanyakan daerah depan lobus frontal memiliki
fungsi istimewa dalam pemecahan masalah dan perencanaan. Bagian otak ini
menunjukkan aktivitas ketika seseorang butuh menunda suatu tugas yang belum
selesai dan berganti perhatian ke tugas lain. Misalnya saat seseorang
melanjutkan membaca laporan setelah dipotong oleh telepon.
Menurut
hipotesis tumpah(hipotesis spillover), yaitu hipotesis yang menyatakan bahwa
terdapat korelasi positif antara intelektualitas pekerjaan dan aktivitas waktu
senggang karena terbawanya perolehan kognitif dari pekerjaan ke waktu senggang.
Banyak penelitian mendukung hipotesis ini.
Menggabungkan Pekerjaan dengan
Sekolah
Bagaimana
mengambil bekerja dan belajar memengaruhi perkembangan kognitif dan persiapan
karir? Delapan persen lulusan mahasiswa profesional di AS dipekerjakan, 63
persen waktu-penuh dan sepanjang tahun. Kira-kira 70 persen dari mahasiswa
bekerja ini menyatakan bahwa pekerjaan mereka mempersiapkan karir mereka.
Namun, mereka juga melaporkan kelemahan, seperti keterbatasan pengaturan jadwal
kuliah dan jumlah pilihan kelas.
Pendidikan Dewasa dan Keterampilan
Kerja
Kebanyakan pekerjaan, terutama yang
bayarannya tinggi, yang tidak menuntut gelar perguruan tinggi memang menuntut
pelatihan pekerjaan. Para pemberi pekerjaan melihat keuntungan pendidikan
pekerjaan dalam hal peningkatan moral, meningkatnya kualitas kerja, kerja
kelompok dan pemecahan masalah yang lebih baik, dan kemampuan yang lebih baik
dalam mengatasi perubahan teknologi dan perubahan lain.
Keterampilan teknologi juga semakin
diperlukan untuk berhasil dalam dunia modern dan merupakan komponen utama dalam
dunia modern dan merupakan komponen utama dari pendidikan dewasa yang berkaitan
dengan pekerjaan. Karyawan dewasa awal dan madya banyak menggunakan internet
dan e-mail di kantor daripada karyawan orang dewasa.
Pelatihan Literasi
Literasi
(literacy) merupakan tuntutan
fundamental bagi partisipasi bukan saja di tempat kerja, tetapi juga di
berbagai sisi masyarakat modern yang dikendarai oleh informasi. Orang dewasa
yang melek aksara adalah mereka yang dapat menggunakan informasi cetak dan
tertulis, mencapai tujuan mereka dan mengembangkan pengetahuan dan potensi
mereka. Pada pergantian abad, seseorang dengan tingkat pendidikan kelas empat
dianggap melek aksara, sekarang ijazah menengah atas pun tidak cukup.
Menurut
survey literasi nasional dan internasional yang dilakukan sepanjang tahun
1990-an, hampir setengah orang dewasa Amerika tidak dapat memahami materi
tertulis, memanipulasi angka, dan menggunakan dokumen cukup baik untuk berhasil
di ekonomi sekarang.
2.3.3. Memperlancar Transisi Menuju Dunia
Kerja
Beberapa
ilmuwan perkembangan, mengusulkan beberapa pertimbangan yang memperkuat
hubungan antara institusi kerja dan pendidikan terutama community college:
Ø Memperbaiki dialog antara pendidik
dan pemberi kerja
Ø Memodifikasi jadwal sekolah dan
kerja untuk beradapsi terhadap kebutuhan mahasiswa yang bekerja
Ø Memberikan kesempatan pemberi kerja
merancang program-program kerja belajar
Ø Meningkatkan ketersediaan pekerjaan
sementara dan paruh waktu
Ø Menghubungkan lebih baik apa yang
mahasiswa pelajari di perkerjaan dan sekolah
Ø Memperbaiki pelatihan-pelatihan
konselor bimbingan karir
Ø Menggunakan dengan lebih baik kelompok
belajar dan pendukung, serta tutoring dan
mentoring
Ø Menyediakan beasiswa, dukungan
finansial, dan asuransi kesehatan untuk mahasiswa dengan pekerjaan paruh waktu
juga penuh waktu
BAB III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Perkembangan kognitif dan moral
merupakan perkembangan yang krusial pada manusia pada tahap dewasa dini dimana
segala aspek yang mencakup didalamnya akan menentukan penyelesaian masalah
dalam kehidupan sehari-hari yang mungkin tidak dapat ditemukan hanya sekedar
dengan akademis. Banyak perubahan yang terjadi, terutama seperti yang telah
diuraikan oleh Sternberg bahwa inteligensi bukan dengan IQ melainkan bagaimana
seseorang mampu melampaui esxperiential dan
contextual elements. Begitu juga
dengan perkembangan moral yang sebenarnya kental dengan pengaruh budaya. Hal
ini juga yang menghasilkan perlakuan terhadap pria dan wanita juga akan berbeda
yang akan mengembangkan moral seseorang terhadapa jender itu sendiri yang
secara tidak langsung berbeda.
Perkembangan kognitif dan moral ini
juga mengiring seseorang yang berada pada tahap dewasa dini siap atau tidak
dalam menjalani transisi baik di perkuliahan maupun di dunia kerja. Dan hal ini
juga yang akan mengiring seorang individu siap untuk masuk ke tahap dewasa
tengah.
DAFTAR PUSTAKA
John W. Santrock. 2002. A
Topical Approach to Life Span Development.Mc Graw-Hill
Papalia, E. Diane, dkk. 2004, Human DevelopmentHuman Development.9th Edition. McGraw-Hill.
Santrock. 2004, Life Span
Development. 9thedition.
McGraw-Hill.
Komentar
Posting Komentar