DESAIN ORGANISASI
1.
Jenis Pengambilan Keputusan
Selain dari mekanisme koordinasi maka, salah
satu aspek penting serta yang membedakan antara suatu desain organisasi dengan
lainnya adalah tipe pengambilan keputusan, yang pada umumnya terbagi atas
Sentralisasi dan Desentralisasi.
1.1 Sentralisasi
Sentralisasi
adalah proses mentransfer dan menetapkan
pengambilan keputusan otoritas ke tingkat yang lebih tinggi dari hirarki
organisasi. Dalam sebuah organisasi terpusat, keputusan-keputusan telah
dipindahkan ke tingkat yang lebih tinggi atau tingkatan organisasi, seperti
kantor pusat, atau pusat perusahaan. Pengetahuan, informasi dan ide-ide yang
terkonsentrasi di bagian atas, dan keputusan yang mengalir ke organisasi.
Bisnis yang
memiliki sentralisasi menjaga pengambilan keputusan tegas di bagian atas
hirarki (antara manajemen paling senior).
Keuntungan
Sentralisasi :
- Lebih mudah untuk mengkoordinasikan dan
mengendalikan dari pusat
- Lebih cepat pengambilan keputusan lebih
mudah untuk menunjukkan kepemimpinan yang kuat.
- Pertukaran data dan/atau informasi dapat
dilakukan dengan mudah karena keseragaman teknologi penyimpanan data
primer maupun sekunder.
- Jaminan terbentuknya sistem yang holistik
dan koheren di seluruh tataran organisasi karena sifatnya yang standar dan
terpusat.
Kekurangan
Sentralisasi :
- Manajer lokal cenderung jauh lebih dekat
dengan kebutuhan pelanggan.
- Kurangnya otoritas turun hirarki mungkin
mengurangi motivasi manajer.
- Layanan pelanggan tidak mendapat manfaat
dari fleksibilitas dan kecepatan dalam pengambilan keputusan local.
- Terbatas kemampuan untuk memenuhi
kebutuhan pengguna.
- Karena biasanya akan mengarah pada satu
standar tertentu, kerap perlu dikeluarkan biaya yang relatif jauh lebih
mahal dibandingkan dengan nonstandar.
1.2 Desentralisasi
Desentralisasi
adalah proses mentransfer dan menetapkan pengambilan keputusan otoritas untuk
tingkat yang lebih rendah dari hirarki organisasi. Dalam sebuah organisasi desentralisasi,
pengambilan keputusan telah dipindahkan ke tingkat yang lebih rendah atau
tingkatan organisasi, seperti divisi, cabang, departemen atau anak perusahaan.
Dalam struktur desentralisasi, pengambilan keputusan tersebar untuk memasukkan
lebih banyak manajer junior dalam hirarki, serta unit bisnis individu atau
lokasi perdagangan.
Keuntungan
Desentralisasi :
·
Dapat
meningkatkan motivasi staf.
·
Keputusan
yang dibuat lebih dekat dengan pelanggan.
·
Cara yang
baik untuk melatih dan mengembangkan manajemen junior
·
Penghematan
biaya karena tidak semua unit yang memerlukan komputasi membutuhkan perangkat
komputer dengan spesifikasi yang sama.
Kekurangan
Desentralisasi :
- Pengambilan keputusan tidak selalu
strategis.
- Memungkinkan kekacauan kontrol terhadap
sistem komputer
- Kurangnya pengawasan dan pengendalian
- Keamanan dan berbagi informasi harus
diverifikasi (norma, indeksasi, dll)
Proses Pengambilan Keputusan
1
Mengumpulkan
informasi untuk diteruskan kepada pengambil keputusan mengenai apa yang dapat dilakukan
2
Memproses dan
menginterpretasikan informasi tersebut untuk member saran kepada pembuat
keputusan mengenai apa yang dilakukan
3
Membuat
pilihan mengenai apa yang akan dilakukan
4
Memberi
wewenang kepada orang lain mengenai apa yang hendak dilakukan dan
melaksanakannya
2. Terbentuknya Desain
2.1 Struktur Sederhana
Dalam tahap awal organisasi, bentuk
desain organisasi yang paling sering digunakan ialah struktur sederhana.
Struktur ini berbentuksederhana, baik berdasarkan pelakunya, sistem dan
teknologi yang digunakan. Struktur sederhana akan dijelaskan berdasarkan
karakteristik dasar, gambaran umum, gambaran struktur sederhana, kekuatan dan kelemahan, serta penggunaan
struktur sederhana seperti bagan
dibawah.
2.1.2 Karakteristik dan Gambaran Umum
Struktur Sederhana
NO
|
DIMENSI
|
URAIAN
|
1
|
Mekanisme Koordinasi Utama
|
Supervisi langsung
|
2
|
Pemegang Peran
|
Manajemen puncak
|
3
|
Parameter Desain
|
Sentralisasi, struktur organik
|
4
|
Faktor Situasional
|
·
Muda
·
Kecil
·
Sederhana
·
Sistem dan perangkat teknik tidak
canggih
·
Lingkungan yang dinamis
·
Perlu manajemen puncak yang kuat
·
Tidak mengikuti kemajuan
|
5
|
Karakteristik elemen struktur
|
·
Tdak ada teknostruktur (ahli/pakar),
hanya dikontrak bila diperlukan
·
Staf pendukung sedikit
|
6
|
Alur kerja
|
·
Fleksibel
·
Pekerjaan dari pelaksana tidak
terspesialisasi
|
7
|
Pengambilan keputusan
|
·
Manajemen puncak
·
Bersifat intuitif, tidak dianalisis
bersaksi pada kesempatan
|
8.
|
Mengatasi Masalah
|
·
Inovasi
·
Inovasi interpreneurship
|
9.
|
Karakter struktur organisasi
|
Organik
|
10
|
Kaitan dengan tahapan/siklus
kehidupan organisasi
|
Terdapat pada tahap awal
|
![]() |
|||
![]() |
|||
Keterangan :
a: Manajemen Puncak : Pembuat strategi
b: Manajemen Madya
c: Pelaksana
Pada gambar diatas, terjadi penyempitan pada manajemen madya. Hal
ini mencerminkan adanya hierarki yang tinggi dari suatu otoritas elaborasi yang
tinggi pada struktur administrasi. Penunjang pada keduanya terfokus pada
pelaksana yang cukup banyak. Struktur sederhana membuat pengawasan yang luas, yaitu tidak ada
staf pendukung, tidak ada teknostruktur, dan manajemen madya yang kurang.
2.1.2 Kelebihan & Kekurangan
Struktur Sederhana
No
|
DIMENSI
|
KELEMAHAN
|
KEKUATAN
|
1
|
Struktur organisasi
|
·
Pengawasan luas, kadangkala dapat
tidak terawasi
·
Sentralistik
·
Perkembangan struktur organisasi yang
ada tidak mencukupi
|
·
Sederhana
·
Dapat dikontrol
·
Fleksibel
|
2
|
Pengambilan keputusan
|
·
Tergantung pada satu orang
·
Kekuasaan terpusat, bisa berpengaruh
pada efektivitas
·
Kerancuan antara masalah strategi dan
masalah operasional rutin
|
·
Cepat, tidak birokratis, dan biaya
rendah
·
Tidak ada jenjang birokrasi yang
berlebihan
·
Reaksi strategik dan menuntut adanya
pengetahuan dan keterlibatan dari operator
|
3
|
Iklim organisasi
|
Terbatas, tidak merasa dilibatkan
dalam permasalahan
|
Akrab, adanya keterikata dan rasa
identifikasi pada organisasi
|
4
|
Kepemimpinan
|
Autokratik
|
Kharismatik, tidak birokratis
|
5
|
Sikap terhadap perubahan
|
·
Penolakan terhadap birokrasi
·
Berisiko tinggi karena kekuasaan di
satu tangan
·
Risiko tinggi, karena dapat terjadi
sesuatu pada manajemen puncak
|
·
Luwes, fleksibel dan dinamis
·
Pertanggungjawaban jelas
·
Tidak ada ketidakjelasan tujuan
·
Dapat langsung melihat kontribusi
pegawai terhadap organisasi
|
2.1.3 Penggunaan Struktur
Sederhana
Struktur sederhana cocok digunakan dalam kondisi berikut,
yaitu :
a. Kondisi
lingkungan yang sederhana dan dinamis
·
Lingkungan yang sederhana àmudah dipahami dan dapat
mengambil keputusan secara efektif
·
Lingkungan yang dinamis à perlu struktur yang organik
sehingga dapat bereaksi pada hal-hal yang tidak dapat diramalkan
b.
Jumlah pegawai kecil
Mudah untuk menciptakan
komunikasi dan hubungan interpersonal yang akrab.
c. Sistem
dan perangkat teknik sederhana
Sistem dan perangkat teknik
yang sederhana lebih mudah mengkontrol.
d. Pada
masa awal organisasi
Pada masa/tahap awal organisasi dimana
pemilik biasanya merangkap sebagai manajemen puncak (strategic apex), maka
biasanya yang digunakan adalah struktur sederhana.
e. Manajemen
puncak adalah pemilik
Pengawasan dapat dilakukan
dengan mendalam.
f. Organisasi
mengalami krisis
Pada masa krisis, perlu
adanya manajemen kontrol.Senior manajer mencari kekuasaan
g. Bila
senior manajer mencari kekuasaan
Senior mengembalikan kekuasaan ke manajemen.
2.2 Birokrasi Mesin
Konsep
utama pada birokrasi mesin adalah
standarisasi.Birokrasi mesin mempunyai tugas operasi rutin yang
sangat tinggi, peraturan yang sangat di formalisasi, tugas yang dikelompokkan
dalam departemen fungsional dan wewenang yang disentralisasi. Contoh prosedur rekening, department store atau kantor pemerintah tempat mengumpulkan
pajak distandarisasi untuk koordinasi
dan kontrol.
2.2.1
Karakteristik
Umum Birokrasi Mesin:
·
Memilikispesialisasitinggi àtugasbersifatrutin,
prosedurpelaksanaan formal, peraturandankomunikasibersifat formal
melaluiorganisasi, memiliki unit pelaksana yang besar.
·
Pelaksana memiliki alur dan proses kerja yang
sangat terasionalisasi.
·
Struktur administrasi terelaborasi. Manajer madya
sangat berkembang pada unit fungsional .Tugas manajement madya antara lain
adalah :
-
Mengatasi masalah yang muncul pada para pekerja
yang sangat terspesialisasi, yang dapat diatasi dengan cara pemberian instruksi.
-
Menjadi penghubung antara para pakar dengan pelaksana,
yaitu untuk menerapkan standar yang telah ditetapkan pada unit operasional yang
ada.
-
Menunjang alur kerja dari struktur yang ada ,
dengan memberikan sekumpulan informasi kepada tingkat manajemen yang lebih tinggi.
·
Birokrasi mesin menekankan pada aspek pembagian
kerja pada semua bentuk baik hirarki maupun status.
·
Birokrasi mesin sangat menekakan pada aspek pengawasan,
agar dapat mengontrol proses kerja secara terstandar.
·
Birokrasi mesin sangat tergantung pada standarisasi
dari proses dan cara kerjanya untuk dapat melakukan koordinasi.
2.2.2 Ciri-Ciri Birokrasi Mesin
·
Birokrasi mesin
cenderung memperlakukan pekerja sebagai suatu alat
·
Birokrasi mesin
adalah salah satu struktur yang sangat menekankan pada aspek pengawasan , yang mana
pengawasan ini dilakukan dengan cara adanya control atau pengawasan yang ketat karena
standar tersebut berpotensi konflik
·
Birokrasi mesin
lebih cocok pada lingkungan yang sederhana dan stabil .
Desain
birokrasi mesin jenis terdapat pada
organisasi besar yang sudah matang, khususnya organisasi yang memiliki jenis
tugas yang bersifat rutin serta terstandarisir. Birokrasi mesin memiliki
control dari luar , semakin ada control maka organisasi cenderung
tersentralisasi dan terformalisasi.
2.2.2
Kelebihan
dan Kelemahan Birokrasi Mesin
Dimensi
|
Kelemahan
|
Kekuatan
|
Struktur
organisasi
|
·
Alur dan proses kerja rutin
·
Pembagian divisi dan uraian tugas yang
ketat
|
·
Alurdan proses kerja jelas
·
Spesialisasi tinggi
|
Pengambilan keputusan
|
Sentralistik
|
Penekanan
terhadap kontrol
|
Iklim
organisasi
|
·
Komunikasi formal
·
Menganggap manusia sebagai “mesin” ,
akan mengurangi arti kerja
|
Hubungan
kerja yang jelas
antar karyawan
|
Kepemimpinan
|
Sikap dan
aturan hirarki kepemimpinan yang terlalu ketat mengakibatkan kurang luwes
|
Kekuasaan
pada manajemen puncak berdasarkan hirarki yang ketat
|
Sikapterhadapperubahan
|
·
Sulit untuk menerima perubahan
·
Kurang dapat untuk menyesuaikan
|
·
Cocok untuk lingkungan yang stabil
·
Didesain untuk tujuan khusus
|
2.2.4
Penggunaan Birokrasi Mesin
Pada
umumnya birokrasi mesin terdapat pada organisasi yang memiliki :
·
Sifatkhusus (masyarakatdankalangantertentu)
·
Tugas-tugas yang memerlukanstandarisasi
·
Kegiatanuntukmemproduksijenisprodukdanjasabersifattidakmahal
·
Penekananpadaefisiensitugas,
dengancaraotomatisasi.
2.3 Birokrasi Profesional
Birokrasi
profesional adalah spesialis teknis yang menghadapi situasi yang kompleks. Ia
diciptakan untuk memberikan kesempatan kepada organisasi untuk memperkerjakan
spesialis yang sangat terlatih bagi operating core-nya. Birokrasi ini
menggabungkan standarisasi dengan desentralisasi.
Pekerjaan
yang dilakukan membutuhkan tingkat keahlian yang tinggi (seperti S1, S2),
dengan adanya eksplorasi ilmu pengetahuan menciptakan organisasi dengan para
profesional yang ahli dibidangnya untuk menghasilkan produk dan jasa. Sebagai
contoh : rumah sakit, universitas, perpustakaan, musium, perusahaan yang
mendesain pekerjaan engineering,dll. Hal ini telah menciptakan kebutuhan akan
suatu desain oraganisasi yang menyandarkan diri pada spesialisasi sosial
daripada spesialisasi fungsional, maksudnya spesialisasi yang didasarkan atas
kepemilikan kemampuan individu bukan atas dasar pembagian kerja. Kekuatan
desain dari birokrasi ini terletak pada operating core, karena desain ini
mempunyai kemampuan kritis yang dibutuhkan organisasi dan mempunyai otonom,
yang diberikan melalui desentralisasi untuk menerapkan keahlian mereka.
Contoh
pada gambar 10-7 (Perpustakaan San Diego State University). Dimana perpustakaan
ini menegakkan diri pada kemampuan teknis para spesialis untuk
memperoleh,menentukan referensi, dokumen pemerintah, mengkatalogkan, dan
keahlian sejenis. Para profesional memperoleh keterampilannya melalui
pendidikan sampai mendapat gelar master in library science. Para profesional
tersebut melakukan aktivitas mereka secara bebas, namun strukturnya jelas dan
terdapat banyak peraturan. Dimana keterampilan itu telah mereka dapat selama
mereka dalam pendidikan bukan diterapkan
oleh organisasi. Birokrasi profesional ini juga memiliki kesamaan denga
birokrasi mesin. Contohnya dalam perpustakaan, pegawai-sekretaris, orang yang
mengisi rak tidak mempunyai wewenang yang didesentralisasi.
Kelemahan
·
Ada kecenderungan berkembangnya konflik
antara sub-unit
·
Para spesialis pada birokrasi profesional
bersifat kompulsif dalam tekadnya untuk mengikuti peraturan
Kelebihan
·
Dapat mengerjakan tugas yang terspesialisasi
·
Efisien dan terampil
Kapan Birokrasi Profesional digunakan?
Birokrasi
ini paling baik digunakan untuk organisasi dengan ukuran besar, lingkungan yang
stabil dan kompleks dimana organisasi tersebut membutuhkan penggunaan keterapilan yang sukar dimana hanya
dipelajari pada pendidikan formal, sehingga keterampilan tersebut berjalan baik
dan terstandarisasi, dan teknologi yang memadai. Operating core organisasi
tersebut harus didominasi oleh para profesional terampil. Ledakan ilmu
pengetahuan membuat birokrasi ini menjadi favorit di tahun 1980-an.
2.4 Struktur Profesional
Kekuasaan dalam struktur divisional
terletak pada manajemen menengah. Karena struktur divisional sebetulnya adalah
sejumlah unit yang otonom, masing-masing secara khas dikoordinasikan secara
terpusat oleh sebuah kantor pusat. Para manajemen divisi bebas untuk mengatur
divisi mereka dengan cara yang mereka kira paling baik selama hal tersebut
sesuai dengan pedoman umum yang ditetapkan oleh kantor pusat. Sebagai contoh
gambar di bawah adalah organigram yang biasa terdapat pada desain organisasi
divisional. Dari oganigram tersebut dapat dilihat bahwa dapat saja terjadi duplikasi
fungsi yang terdapat pada setiap divisi, karena masing-masing divisi memang
menangani produk/jasa yang berbeda. Misalnya:
·
PT Unilever Indonesia dengan berbagai
produknya, antara lain: sabun mandi, detergen, pasta gigi, shampo, dan
sebagainya.
·
PT Sinar Mas Group dengan berbagai produknya,
antara lain: kertas, margarin, minyak goreng, dan sebagainya.
Jika
kita memperhatikan struktur divisional tersebut dengan lebih saksama tampaklah
bahwa divisi-divisi itu mewakili sekelompok “perusahaan kecil” yang didesain
sebagai birokrasi mesin. Divisi-divisi tersebut cenderung untuk dioragnisasikan
ke dalam, formalisasi yang tinggi, dan wewenang yang disentralisasikan pada
manajer divisi.
IX.2. Contoh Organigram Desain
Divisional
Sumber: Mintzberg (1993)
Kelemahan
·
Masyarakat kadangkala melihat divisi sebagai
oragnisasi tersendiri
·
Kurang responsif terhadap kondisi masyarakat
·
Tidak berfungsi secara efektif di luar sektor
swasta
·
Perlu sistem pengawasan dan standar kinerja
yang jelas
Kelebihan
·
Efisien alokasi sumberdaya/modal
·
Membantu memberikan pelatihan bagi manajemen
madya
·
Membagi resiko
·
Memberikan respon secara strategis
Kapan digunakan?
Dengan
pertimbangan dari kelemahan serta kelebihan dari struktur divisional adalah
sebagai berikut :
·
Pasar dan produk yang beragam
·
Sistem teknologi yang canggih (efisien bila
divisi dipisah)
·
Lingkungan yang sederhana dan stabil
·
Tua dan besar
2.5 Adhocracy
Adhocracy
dicirikan oleh diferensiasi horisontal yang tinggi, diferensiasi vertikal yang
rendah, formalisasi yang rendah, desentralisasi, fleksibilitas, dan daya
tanggap yang tinggi. Diferensiasi horisontal besar karena adhocracy pada
umumnya diisi oleh profesional yang ahli dibidangnya. Diferensiasi vertikal
rendah karena tingkat administrasi yang banyak akan membatasi kemampuan
organisasi untuk melakukan penyesuaian. Kita telah ketahui bersama bahwa
profesional dan fomalisasi berbanding terbalik. Adhocracy peraturan sedikit,
yang ada cenderung untuk tudak mengikat dan tidak tertulis. Tujuan dari
fleksibilitas menuntut tidak adanya formalisasi. Lantas apa perbedaan antara
adhocracy dengan birokrasi profesional? Padahal sama-sama memperkerjakan para
profesional?. Perbedaan utama adhocracy dengan birokrasi profesional, bahwa
pada adhocracy dalam pemecaham masalah sibutuhkan startegi yang barusedangkan
birokrasi profesional, jika dihadapkan pada suatu masalah, maka akan segera
mengklasifikasikannya ke dalam suatu program yang distandarisasi. Pengambilan
keputusan dalam adhocracy didesentralisasi, hal ini perlu bagi kecepatan dan
fleksibilitas. Jadi adhocracy bergantung pada tim yang didesentralisasi terdiri
dari para profesional untuk mengambil keputusan.
Yang
terbaik dari adhocracy adalah konseptualisasi sebagai kelompok hubungan . para
spesialisasi dikelompokkan menjadi tim yang flesibel. Koordinasi di antara para
anggota tim melalui penyesuaian (mutual
adjustment). Jika kondisi berubah maka aktivitas para anggota pun berubah
Gambar
Organisasi Desain Adhoc/ Kepanitiaan (Adhoc Operasional)
![]() |
|||||||||||||||||
|
|
|
|
|
|
||||||||||||
Kelemahan
·
Ambiguitas tinggi (muncul konflik dan
agresivitas)
·
Efisien rendah
·
Pengambilan keputusan lambat
·
Pelaksanaan bingung (terlalu banyak perintah)
·
Kreativitas pelaksaan rendah
·
Pengamblan keputusan sangat lambat
·
Para pelaksana pada umumnya sering bingung
karena perintah tidak datang dari seseorang saja
Kelebihan
·
Pengambilan keputusan terbesar, tidak
berdasarkan birokrasi
·
Fleksibel dan dinamis
·
Selalu mengikuti kemajuan/perkembangan
·
Interaksi dan kerjasama tinggi
·
Pada umumnya keputusan diambil secara tepat
karena segala sesuatunya dibicarakan lebih dahulu secara kolektif dan faktor
pertimbangan
·
Kemungkinan bagi seseorang untuk bertindak
secara diktatoris sangat kecil
Kapan digunakan ?
Dengan
mempertimbangkan berbagai aspek desain adhoc, maka dapat disimpulkan bahwa
penggunaan adalah sebagai berikut :
·
Lingkungan yang dinamis dan kompleks
·
Ketergantungan yang tinggi antar bagian
·
Seringnya terjadi perubahan produk
·
Sistem teknikal yang canggih dan otomatis
·
Mengikuti kemajuan/ perkembangan (orientasi
masa depan)
3.
Karakteristik
Dasar Desain Organisasi
Karakteristik
setiap desain secara umum adalah sebagai berikut :
No
|
Desain
Organisasi
|
Mekanisme
Koordinasi
|
Pemegang
Peran
|
Tipe
Pengambilan Keputusan
|
A. Desain
Dasar
|
||||
1.
|
Struktur Sederhana
|
Supervisi Langsung
|
Manajemen puncak
|
Sentralisasi
·
Vertikal
·
Horizontal
|
2.
|
Birokrasi Mesin
|
Standardisasi Proses kerja
|
Teknostruktur
|
Desentralisasi
·
Horizontal terbatas
|
3.
|
Birokrasi Profesional
|
Standarsisasi Keterampilan
|
Staf Pelaksana
|
Desentralisasi
·
Vertikal
·
Horizontal
|
4.
|
Divisional
|
Standardisasi Keluaran
|
Manajemen Madya
|
Desentralisasi
·
Vertikal yang terbatas
|
5.
|
Komite Adhoc
|
Penyesuaian timbale balik
|
Staf Pendukung
|
Desentralisasi selektif
|
B. Desain
Lain
|
||||
6.
|
Organisasi Nirlaba/ Sosial
|
Standardisasi Norma
|
Ideologi
|
Desentralisasi
|
7.
|
Organisasi Politik
|
Bervariasi
|
Bervariasi
|
Bervariasi
|
3.1 Struktur Sederhana
Struktur sederhana merupakan salah satu bentuk desain
organisasi yang paling sering/banyak digunakan, khususnya pada tahap awal
organisasi. Struktur ini sangat sederhana, baik pada pelaku-pelakunya, maupun
pada sistem dan teknologi yang digunakan.
Karakteristik struktur sederhana
adalah, tidak adanya teknostruktur, staf pendukung yang sedikit, pembagian
divisi yang longgar, dan diferensiasi yang kecil antara unit dan hirarki
manajerial yang kecil. Karakter struktur sederhana adalah organic dan secara
umum dapat dikatakan bahwa struktur sederhana adalah tidak berstruktur (non
struktur) mencoba untuk menghindar dari penggunaan peringkat formal dari
struktur dan mengurangi adanya ketergantungaan dari pakar, sehingga biasanya
tenaga ahli dipekerjakan secara tidak tetap.
Koordinasi pada struktur sederhana sangat dipengaruhi
oleh supervise langsung. Kekuasaan dalam pengambilan keputusan dipegang oleh
manajemen puncak. Manajemen puncak mempunyai rentang kendali yang lebar dalam
struktur sederhana atau dengan kata lain manajemen puncak sangat berperan dalam
organisasi.
Pengambilan keputusan pada struktur
ini cenderung flexible, dengan kekuasaan yang terpusat, sertas berdasarkan
reaksi yang cepat. Perumusan strategi dan kebijaksanaan merupakan tanggung
jawab dari manajemen puncak. Proses pengambilan keputusan cendurung intuitif,
tidak dianalisis dan unit berorientasi dan bereaksi pada kesempatan sehingga
tidak mengherankan bila strategi yang digunakan merupakan cerminan dari
kepercayaan, kepribadian serta sikap dan gaya manajemen.
Struktur ini memiliki struktur
organisasi yang datar. Dalam pengambilan keputusan biasanya bersifat informal,
kompleksitas rendah, harus bereaksi dengan cepat, serta memiliki rentang
kendali yang luas.
3.2 Birokrasi Mesin
Desain organisasi ini merupakan desain yang
paling banyak ditemukan pada jenis organisasi besar dan birokratis, biasanya
terdapat di pemerintahan, seperti Departemen dan Badan Usaha Milik Negara
(BUMN). Pada desain ini, yang paling berperan adalah para teknostruktur/pakar. Teknostrukur
atau pakar inilah yang memberikan pengarahan dengan cara memberikan
standardisasi khusunya untuk proses kerja, hal inilah yang kemudian membuat
adanya desentralisasi horizontal. Teknostruktur merupakan bagian penting dari
desain ini, karena teknostrukturlah yang melakukan standardisasi tersebut.
Dalam birokrasi mesin sangat ditekankan aspek
pembagian kerja dan differensiasi unit kerja pada semua bentuk, baik hirarki
maupun status. Pelaksana memiliki alur dan proses kerja yang sangat terasionalisasi.
Sehingga tugas para pelaksana umumnya menjadi sederhana dan rutin, dan pada
umumnya hanya memerlukan keterampilan dan kerja yang jelas bahkan cenderung
sempit, baik secara vertical maupun horizontal.
Dalam desain ini terdapat spesialisasi yang
tinggi, tugas-tugas pada umunya bersifat rutin, prosedur pelaksanaan sangat
formal, peraturan dan komunikasi bersifat formal melalui organisasi, dan
memiliki unit pelaksana yang besar, berdasarkan pada fungsi pada waktu membagi
kelompok kerja. Desain ini memiliki kekuasaan yang terpuasat pada waktu
mengambil keputusan, memiliki struktur administrasi yang terelaborasi dengan
adanya pembagian yang jelas antara line dan staf (Mintzberg,1993 dalam
Mangundjaya 2002.
3.3 Birokrasi Profesional
Birokrasi Profesional
|
Standarsisasi Keterampilan
|
Staf Pelaksana
|
Desentralisasi
·
Vertikal
·
Horizontal
|
Kondisi dimana staf
pelaksana berusaha untuk mengurangi pengarahan dari para administrator,
manajer, maupun para analis pada pekerjaannya dan membentuk desentralisasi baik
secara vertical maupun horizontal serta bekerja secara otomatis dan melakukan
koordinasi berdasarkan standardisasi dari keterampilan, itulah yang membentuk
desain organisasi birokrasi professional.
Pada desain ini,
sistem koordinasi yang digunakan adalah berdasarkan standardisasi keterampilan
sehingga parameter desain yang berhubungan adalah training dan indoktrinasi.
Organisasi akan mengangkat seseorang yang telah terlatih untuk menjadi
pelaksana dan member mereka kebebasan untuk mengontrol pekerjaannya. Dengan itu
berarti para pelaksana akan dapat bekerja secara mandiri, tidak tergantung pada
rekannya dan dekat dengan konsumen.
3.4 Divisional
Pada desain organisasi ini, para professional
ditempatkan sebagai unit yang terdapat dalam manajemen madya. Berbeda dengan birokrasi
professional yang menempatkan mereka sebagai pelaksana. Unit-unit tersebut
disebut dengan divisi dan pusat administrasinya disebut sebagai kantor pusat.
Kekuasaan mengalir dari atas ke bawah.
Bentuk ini seringkali dipakai pada sector
swasta dari perekonomian industry. Tetapi juga dapat ditemukan pada
sector-sektor lain di bidang jasa. Bentuk ini berbeda dengan desain lainnya.
Letak perbedaannya pada desainnya yang tidak terdiri dari satu struktur yang
dari manajemen puncak sampai dengan staf pelaksana, tetapi merupakan suatu
struktur yang saling tumpang tindih. Dalam hal ini setiap divisi memiliki
strukturnya sendiri. Sehingga pada desain ini penekanannya adalah pada hubungan
antara kantor pusat dengan divisi atau dampaknya adalah antara manajemen puncak
dan manajemen madya tertinggi.
Bentuk ini tergantung pada kondisi pasar
untuk melakukan pengelompokan unit untuk manajemen madya tertinggi. Divisi
dibentuk desesuaikan dengan pasar yang dilayaninya dan kemudian diberi otonomi
dan control terhadap fungsi operasi yang dituntut untuk melayani pasar
tersebut.
3.5 Komite Adhoc
Yang menjadi dasar terbentuknya desain komite Adhoc
adalah bila organisasi dibentuk dalam satu bentuk tugas dimana kekuasaan
terdeserntralisasi secara selektif dan bebas untuk berkoordinasi ke dalam
maupun diantara mereka melalui penyesuaian mutual.
Secara umum, komite adhoc menuntut adanya desain yang
berbeda, yaitu yang mampu untuk menyatukan para ahli/pakar dari berbagai latar
belakang pendidikan ke delam sebuah tim yang dapat berfungsi dengan baik. Untuk
dapat berinovasi berrarti harus dapat melepaskan diri dari pola-pola yang telah
mapan. Sehingga organisasi inovatif tidak dapat tergantung pada berbagai bentuk
standardisasi untuk melakukan berbagai koordinasi. Setiap elemen juga harus
dapat menghindari segala macam bentuk-bentuk struktur birokrasi, pembagian
kerja yang tajam, pembagian unit yang jelas, perilaku yang terformalisasi,
maupun penekanan pada sistem perencanaan dan pengawasan. Namun yang terpenting
adalah untuk tetap flexible.
Jenis organisasi ini dapat ditemukan pada hampir semua
tingkat organisasi. Contohnya adalah lembaga-lembaga pendidikan yang penuh
dengan berbagai komite/panitia
pemerintah. Secara harafiah perkataan komite/panitia berarti mereka yang
diberikan tugas tertentu atau kekuasaan tertentu. Tipe organisasi dengan bentuk desain adhoc
pada umumnya dibentuk dalam waktu yang terbatas untuk melaksanakan tugas-tugas
tertentu.
3.6 Organisasi Nirlaba/Sosial
Mekanisme koordinasi juga dapat dibentuk
melalui standardisasi norma. Adanya kesamaan visi, misi dan norma-norma pada
para anggota organisasi membuatnya membutuhkan desain organisasi sosial. Secara
umum, organisasi sosial adalah organisasi yang memiliki struktur yang longgar
sehingga hal ini berpengaruh pada iklim organisasi secara keseluruhan.
Karakteristik organisasi sosial relative
berbeda dengan organisasi lainnya. Hal ini tampak dari cirri-ciri organisasi
sosial yang mana bertujuan unutk merubah masyarakat, merubah anggota
organisasim memberikan pengalaman unik dan memberikan suatu set kepercayaan dan
norma-norma. Organisasi ini juga dapat bersifat kurang luwes dalam menyesuaikan
dengan hal-hal baru bagi internal organisasi.
Dalam organisasi sosial tidak ada pembagian
tugas yang jelas, dan jarang terdapat supervise langsung maupuj standardisasi
baik untuk proses kerja, keluaran dan keterampilan. Hirarki yang ada dan
birokrasinya juga minim, tidak ada yang disebut dengan tekno struktur. Tidak
ada formalisasi, jarang terdapat pelatihan dan tidak ada perencanaan dan
control kerja.
Yang terpenting dalam organisasi sosial
adalah hubungan interpersonal antar anggota yang dipertahankan untuk tetap
harmonis dan standardisasi mutual norma yang dilakukan secara informal, tanpa
adanya alat penghubung.
3.7 Organisasi Politik
Organisasi politik merupakan organisasi yang sangat
dinasmis, organisasi ini menggunakan mekanisme koordinasi yang sangat
bervariasi, tergantung bagaimana situasi dan kondisi organisasi tersebut.
Pemegang peranpun bervariasi dan cara pengembilan keputusan juga bervariasi
tergantung pada keadaan dan situasi jalannya organisasi.
KESIMPULAN
Desain
organisasi organisasi adalah hasil dari sebuah proses penciptaan, yang mana
desain ini akan mempengaruhi strategi, system, struktur, maupun pola hubungan
anggota organisasi. Desain organisasi akan berdampak pada semua aspek kehidupan
organisasi.
Terdapat
berbagai jenis pengambilan keputusan dalam organisasi, begitu pula dengan
mekanisme koordinasinya. Selain itu terbentuknya desain organiasai juga mempengaruhi
organisasi tersebut. Desain organisasi tersebut antara ain seperti struktur
sederhana, birokrasi mesin, birokrasi professional, divisional dan komisi
adhoc.
DAFTAR
PUSTAKA
Mangundjaya,Wustari H, 2002,Organisasi : Struktur, Proses dan Desain,
Pacu Cita Insani;Jakarta
Robbins, Stephen P, 1994, Teori Organisasi:Struktur,Desain dan
Aplikasi, Penerbit Arcan, Jakarta



gambarnya gak bisa diliat
BalasHapus