Teori Belajar dan Pembelajaran pada Anak Usia Dini
Makna
Belajar melalui Bermain bagi Anak
Bermain merupakan suatu aktivitas yang khas
dan sangat berbeda dengan aktivitas lain seperti belajar dan bekerja yang
selalu dilakukan dalam rangka mencapai suatu hasil akhir.Anak-anak umumnya
sangat menikmati permainan dan akan terus melakukannya di manapun mereka
memiliki kesempatan,karena melalui bermainlah anak belajar tentang apa yang
ingin mereka ketahui. Hingga pada akhirnya mereka mampu mengenal semua
peristiwa yang terjadi disekitarnya.
Piaget dalam Mayesty (1990 :42) mengatakan
bahwa bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan berulang-ulang dan menimbulkan
kesenangan/ kepuasan diri seseorang. Sedangkan Parten memandang kegiatan
bermain sebagai sarana sosialisasi, diharapkan melalui bermain dapat memberikan
kesempatan anak berekplorasi, menemukan, mengekpresikan perasaan, berkreasi,
dan belajar secara menyenangkan. Selain itu kegiatan bermain dapat membantu
anak mengenal tentang diri sendiri, dengan siapa dia hidup serta lingkungan
tempat dimana ia hidup.
Berikut akan diuraikan beberapa pendapat ahli
tentang bermain :
Buhler dan Danziger dalam Roger dan Sawyers
(1995:95), berpendapat bahwa bermain adalah kegiatan yang menimbulkan
kenikmatan, sedangkan Freud menyakini bahwa walaupun bermain tidak sama dengan
bekerja tetapi anak menganggap bermain sebagai suatu yang serius.
Docket dan Fleer (2000:41-43) berpendapat
bahwa bermain merupakan kebutuhan bagi anak, karena melalui bermain anak akan
memperoleh pengetahuan yang dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
Vygotsky dalam Naugton (2003:46) percaya
bahwa bermain membantu perkembangan kognitif anak secara langsung. Ia
menegaskan bahwa bermain simbolik memainkan peran yang sangat penting dalam
perkembangan berpikir abstrak. Sejak anak bermain pura-pura, maka anak menjadi
mampu berpikir tentang makna-makna objek yang mereka representasikan secara
independen. Berhubungan dengan pembelajaran, Vygotsky dalam Naugton (2003:46)
berpendapat bermain dapat menciptakan suatu zona perkembangan proximal pada anak. Dalam
bermain, anak selalu berperilaku di atas usia rata-ratanya, di atas perilakunya
sehari-hari, dalam bermain anak dianggap “lebih” dari dirinya sendiri.
Terdapat dua ciri utama bermain yaitu :
a. Semua aktivitas bermain representasional menciptakan
situasi imajiner yang memungkinkan anak unutk menghadapi keinginan-keinginan
yang tidak dapat direalisasikan dalam kehidupan nyata
b. Bermain representasional memuat aturan –aturan
berperilaku yang harus diikuti oleh anak untuk dapat menjalankan adegan bermain
Irawati berpendapat bahwa bermain adalah
kebutuhan semua anak, terlebih lagi bagi anak-anak yang berada di rentang usia
3-6 tahun. Bermain adalah suatu kegiatan yang dilakukan anak dengan atau tanpa
mempergunakan alat yang menghasilkan pengertian dan memberikan informasi,
memberi kesenangan dan mengembangkan imajinasi anak spontan dan tanpa beban.
Pada saat pembelajaran berlangsung hampir semua aspek perkembangan anak dapat
terstimulasi dan berkembang dengan baik termasuk didalamnya perkembangan
kreativitas. Anak-anak memiliki motivasi dari dalam dirinya untuk bermain,
memadukan sesuatu yang baru dengan apa yang telah diketahui.
2.3
Periode sensitif untuk belajar
Dalam
proses tumbuh kembang, Anak melewati sebuah periode dimana anak menjadi peka atau mudah
terstimulasi oleh aspek-aspek yang berada dilingkungannya. Periode ini periode
sensitif.
Montessori
mengindikasikan bahwa anak-anak tumbuh dan berkembang melalui sejumlah tahapan
dengan ketertarikan dan keingintauhan akan sesuatu hal yang disebut periode
sensitif, dimana seorang anak menjadi tertarik terhadap aspek-aspek tertentu
dari lingkungan. Masa ini juga merupakan masa dimana seorang anak sangat mudah
untuk belajar dan terpengaruh dari lingkungannya. Oleh karena itu masa ini
dapat dimanfaatkan pengasuh dalam membentuk perilaku anak.
Setiap
periode sensitif adalah khusus dan bersifat mendesak-memaksa, dan sekaligus
memotivasi anak untuk fokus secara sungguh-sungguh pada beberapa aspek tertentu
pada lingkungannya, setiap harinya tanpa menjadi lelah atau bosan (Montessori
dalam Seldin, 2007:15). Ini merupakan
suatu mekanisme ilmiah dimana anak berusaha mengembangkan bakat dan
keterampilannya yang juga dipengaruhi oleh faktor keturunan. Awal dan akhir
periode sensitif berbeda-beda pada setiap anak,
sehingga penting untuk mengawasi dan merespon anak secara individu.
Proses belajar pada periode sensitif sangat penting sebagai fondasi
perkembangan anak.
Montessori
dalam Seldin (2007:15) mengatakan masa ini merupakan “kesempatan yang
terbatas”. Pada masa ini anak belajar akan hal-hal yang baru, mengembangkan
keterampilan baru serta aspek kemampuan berpikir tanpa rasa “sakit” dan hampir
tanpa disadari. Periode sensitif adalah
tahapan transisi dimana jika anak telah menguasai suatu keterampilan , periode
sensitif terlihat lenyap, sehingga jika tidak dihadapkan pada stimulasi ynag
benar, kesempatan itu akan hilang begitu saja. Keterampilan masih dapat
dipelajari akan tetapi saat ini membutuhkan waktu dan usaha yang benar.
Montessori
dalam Seldin (2007:14-17) mengindentifikasikan beberapa perbedaan dalam periode
sensitif yang terjadi dari mulai lahir sampai usia 6 tahun, yaitu:
1. Gerakan (Lahir-1
tahun)
Gerakan acak
bayi menjadi terkoordinasi dan terkontrol seperti halnya belajar menggenggam,
menyentuh, berbalik, keseimbangan, merayap dan berjalan.
2. Bahasa (Lahir-6 tahun)
Diawali
dengan belajar bersuara, bayi akan mengalami kemajuan dengan mengoceh
kata-kata, suku kata dan akhirnya kalimat.
3. Objek Kecil (1-4 tahun)
Bayi akan
mendekatkan benda kecil ke mukanya dan dari hal-hal yang detail sebagai
kemajuan koordinasi mata-tangan yang semakin lama menjadi sempurna dan akurat.
4. Urutan (2-4 tahun)
Segala
sesuatu harus pada tempatnya. Tahapan ini merupakan ciri-ciri dari bayi
yang suka terhadap hal-hal yang rutin dan keingintahuan pada konsistensi dan
pengulangan.
5. Musik (2-6 tahun)
Bila musik
merupakan bagian dari leluasanya setiap hari, anak-anak akan menunjukkan
keinginan yang spontan dalam intonasi, irama dan melodi.
6. Toilet Training (10 bulan-3
tahun)
Saat sistem
persyaratan anak menjadi lebih baik berkembang dan berintegrasi, anak-anak kita
akan belajar mengontrol kantung kecil dan perut.
7. Kehormatan dan Santun (2-6
tahun)
Anak akan
cinta pada kesopanan dan sikap yang bijaksana yang akan terinternalisasi
kedalam kepribadiannya.
8. Alat Indera (2-6 tahun)
Pendidikan
penginderaan dimulai saat lahir, tetapi dari usia 2 tahun anak akan sangat
menyukai pengalaman inderanya.
9. Menulis (3-4 tahun)
Keterampilan
menulis ini mendahului membaca dan dimulai dengan usaha untuk memproduksi
huruf-huruf dan angka-angka dengan pensil dan kertas.
10. Membaca (3-5 tahun)
Anak
menunjukkan keinginan yang spontan dalam simbol dan suara-suara yang
dikeluarkan tak lama kemudian mereka menyuarakan kata-kata.
11. Hubungan Spasial (4-6
tahun)
Saat
pemahaman hubungan bentuk-bentuk, anak akan berkembang sebagai contoh ia akan
mampu mengerjakan puzzle-puzzle yang sulit.
12. Matematika (4-6 tahun)
Belajar
hitung, jumlah dan mengenal angka dengan memberikan pengalaman nyata untuk
anak.
2.4
Pembelajaran pada Pendidikan Anak Usia Dini
Kegiatan
pembelajaran pada anak usia dini pada hakikatnya adalah pengembangan kurikulum
secara konkret berupa seperangkat rencana yang berisi sejumlah pengalaman
belajar melalui bermain yang diberikan pada anak usia didni berdasarkan potensi
dan tugas perkembangan yang harus dikuasainya dalam rangka pencapaian
kompetensi yang harus didmilki oleh anak (Sujiono dan Sujiono, 2007; 2006).
1.
Hakikat
Program Pembelajaran pada Anak Usia Dini
Bennett,
finn, dan Cribb (1999:91-100), menjelaskan bahwa pada dasarnya pengembangan
program pembelajaran adalah pengembangan sejumlah pengalamn belajar melelui
kegiatan bermain yang dapat memperkaya pengalaman anak tentang berbagai hal,
seperti cara berpikir tentang diri sendiri, tanggapa pada pertanyaan, dapat
memberikan argumentasi untuk mencari berbagai alternatif. Selain itu,
pembelajaran juga dapat membantu anak-anak dalam mengembangkan kebiasaan dari
setiap karakter yang dapat dihargai oleh masyarakat serta mempersiapkan
anak-anak untuk memasuki dunia orang dewasa yang penuh dengan tanggung jawab.
Menurut
Kitano dan Kirby (1986:127-167), pembelajaran haruslah terkait dengan
pengembangan kurikulum yang merupakan rencana pendidikan yang dirancang untuk
memaksimalkan interaksi pembelajaran dalam rangka menghasilkan perubahan
prilaku yang potensial. Kurikulum yang komprehensif seharusnya memilki elemen
utama dari setiap bidang pengembangan yang disesuaikan dengan tingkatan atau
jenjang pendidikannya serta
mengetengahkan target pencapaian peserta didik yang mencakup seluruh kegiatan
pembelajaran di lembaga pendidikan.
Unsur
utama dalam pengembangan pembelajaran anak usia dini adalah bermain. Pendidikan
awal dimasa kanak-kanak diyakini memilki peran yang sangat penting bagi
pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan selajutnya. Menurut Albrecht dan
Miller (2000:216-218), pengembangan program pembelajaran bagi anak usia dini
harusnya sarat dengan aktivitas bermain yang mengutamakan adanya kebebasan bagi
anak untuk bereksplorasi dan beraktivitas, sedangkan orang dewasa seharusnya lebih
berperan sebagai fasilitator saat anak membutuhkan bantuan untuk memecahkan
masalah yang dihadapinya.
2.
Tujuan
dan Fungsi Program pembelajaran
Menurut
Catron dan Allen (1999:23), tujuan pembelajaran yang utama adalah untuk
mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh serta terjadinya komunikasi
interaktif. Kurikulum unutk anak usia dini seharusnya memfokuskan pada
perkembangan yang optimal pada anak melalui lingkungan yang ada disekitarnya
yang juga dapat menggali berbagai potensi tersebut melalui permainan serta
hubungan dengan orang tua dan orang dewasa lainnya. Catron dan Allen juga
berpendapat bahwa seharusnya kelas-kelas bagi anak usia dini merupakan kelas
yang mampu memciptakan suasana yang kreatif dan penuh dengan kegembiraan.
Tujuan
suatu program pembelajaran adalah untuk membantuk meletakkan dasar ke arah
perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan dan kreativitas yang diperlukan
anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya dan untuk mempersiapkan
pertumbuhan dan perkembangan ke tahap selanjutnya. Untuk mencapai tujuan
program pembeljaran tersebut, ada beberapa strategi pembelajaran bagi anak usia
dini yang berorientasi pada :
a. Tujuan
yang mengarah pada tugas-tugas perkembangan disetiap rentang usia anak.
b. Materi
yang diberikan harus sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan yang sesuai
tahap perkembangan anak (DAP = Developmentally Approriate Practice).
c. Metode
yang dipilih seharusnya bervariasi sesuai dengan tujuan kegiatan belajar dan
mampu melibatkan anak secara aktif kreatif serta menyenangkan.
d. Media
dan lingkungan yang digunakan haruslah aman, nyaman, dan menimbulkan
ketertarikan bagi anak dan perlu adanya waktu yang cukup untuk bereksplorasi.
e. Evaluasi
yang terbaik dan dianjurkan untuk dilakukan adalah sebuah rangkaian assesment
melalui observasi partisipatif terhadap segala sesautu yang didlihat, didengar,
dan diperbuat oleh anak (Bredekamp, 1998:30-31).
3.
Fungsi
Program Pembelajaran
Progam
pembelajaran memilki beberpa fungsi yaitu :
a. Untuk
mengembangkan seluruh kemampuan yang dimiliki anak sesuai dengan tahap perkembangannya.
b. Mengenalkan
anak dengan dunia sekitar.
c. Mengembangkan
kemampuan sosialisasi anak.
d. Mengenalakan
peraturan dan menanamkan disiplin pada anak
e. Memberi
kesempatan pada anak untuk menikmati masa bermainnya.
Berdasarkan
paparan diatas, maka tujuan pembelajaran pada anak usia dini adalah untuk
mengoptimalkan perkembangan anak secara menyeluruh berdasarkan berbagai dimensi
perkembangan anak usia dini baik perkembangan sikap pengetahuan, keterampilan
dan kreativitas yang diperlukan anak untuk dapat menyesuaikan diri dengan
lingkungannya dan untuk mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan ke tahap
selanjutnya.
2.5 Model Pembelajaran Anak Usia Dini
Pembelajaran
anak usia dini memiliki dua jenis model yaitu pembelajaran yang berpusat pada
guru dan berpusat pada anak. Pembelajaran yang berpusat pada guru diprakarsai
oleh Pavlov, Skinner, dan para tokoh behavioris lainnya. Adapun teorinya yaitu,
dalam penelitian Pavlov banyak mengamati perilakau hewan, bahwa jika hewan
diberi stimulus tertentu, maka menimbulkan respons yang tertentu sesuai dengan
stimulasi yang diberikan. Skinner mengemukakan bahwa seluruh perilaku manusia
dapat dijelaskan atau diamati sebagai respons yang terbentuk dari berbagai
stimulus yang pernah diterimanya dari lingkungan.
Pembelajaran
yang berpusat pada anak di prakarsi oleh Piaget, Erikson, dan Isaacs. Adapun
teori perkembangannya yaitu, para ahli psikologi perkembangan melihat bahwa
anak memiliki motivasi diri yang dimilikinya sejak lahir untuk menjadi mampu.
“Motivasi berkemampuan” inilah yang kemudian dipandang oleh para ahli psikologi
sebagai dasar untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada anak. Dengan
menciptakan lingkungan dan menyediakan peralatan yang akan menjadi kesempatan
pada anak untuk belajar dan berkembang.
Penerapan Pembelajaran Berpusat pada
Anak dan Guru
Metode
pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran memberikan kesempatan dan
kebebasan pada anak untuk mengemukakan pemikirannya, mereka mengemukakan
pemikirannya sendiri dan mengidentifikasikan kegiatannya. Segala sesuatu yang
munculnya dari diri anak dikembangkan menjadi sebuah kurikulum. Aspek yang
terpenting dalam metode yang berdasarkan permainan adalah kebebasan anak dalam
bermain. Kebaikan dari kurikulum berdasarkan pembelajaran memandang kebutuhan
anak sebagai kebutuhan individu yang unik dan bernilai.
Sedangkan
pembelajaran yang berpusat pada guru atau dikenal dengan istialh, pengajaran
langsung, dimana guru memberikan petunjuk langsung tentang apa yang harus
dilakukan oleh anak dan guru mengevaluasi kegiatan anak berdasarkan tindakan
yang muncul dari dalam diri anak.
karakteristik
mengajar berdasarkan kegiatan pembelajaran berpusat pada anak dan yang berpusat
pada guru
|
|
Pembelajaran Berpusat pada Anak
|
Pembelajaran Berpusat pada Anak
|
|
Bahan, ruang, dan waktu
|
Digunakan secara bebas
|
Berdasarkan petunjuk guru
|
|
Peran guru
|
Mengikuti minat dan keinginan anak,
pengalaman langsung, dan berpusat pada anak
|
Langsung, inisiasi, mengevaluasi, menekan,
dan berdasarkan penampilan anak
|
|
Kerangka kerja pengajaran
|
Berorientasi pada
kegiatan: menguji, menggali dan mempunyai tantangan
|
Memiliki tahapan
berdasarkan tujuan akhir yang akan dicapai
|
|
motivasi
|
Keinginan belajar intrinsik
|
Eksternal, berdasarkan penghargaan
|
|
Konsep belajar
|
Pengalaman langsung
menggunakan pengetahuan untuk dalam bermain untuk memahami situasi yang
nyata.
|
Drill atau pengulangan
untuk menguasai keterampilan.
|
|
Individual vs fokus kelompok
|
Individual, berdasarkan kebutuhan anak
|
Kebutuhan kelompok sebagai satu kesatuan.
Kemampuan untuk berkelompok
|
|
Metodologi
|
Kebebasan sepenuhnya bagi
guru untuk menggunakan intuisi, perasaan dan penilaian
|
Berdasarkan model / contoh
yang dilihat
|
Proses
pembelajaran anak usia dini harus didasarkan prinsip-prinsip perkembangan anak
usia dini, berikut ini :
1. Proses
kegiatan belajar pada anak usia dini harus dilaksanakan berdasarkan prinsip
belajar melalui bermain.
2. Proses
kwgiatan belajar pada anak usia dini dilaksanakn dalam lingkungan yang
kondusif
dan inovatif baik didalam ruangan maupun diluar lingkungan.
3. Proses
kegiatan belajar anak usia dini dilaksanakan dengan pendekatan tematik dan
terpadu.
4. Proses
kegiatan belajar anak usia dini harus diarahkan pada pengembangan potensi
kecerdasan secara menyeluruh dan terpadu.
Artikel yang bagus sekali, silahkan kunjungi blog saya Best University
BalasHapus