TES INTELIGENSI
Wechsler
Test
Seorang psikolog,
David Wechler mengembangkan tiga alat tes inteligensi yaitu the WechslerAdult Intelligence Scale(WAIS), the Wechsler
Intelligence Scale for Children (WISC),dan theWechsler Preschool and Primary
Scale of Intelligence (WPPSI). Ketiga alat tes ini diterima dan banyak
digunakan oleh psikolog klinis dan ahli-ahli lainnya. Namun, untuk alat tes
yang digunakan untuk orang dewasa, the WAIS yang paling efektif. Wechlsler tes
merupakan alat tes yang dikembangkan untuk melihat individu secara keseluruhan
dan fokus pada proses bukan sekedar hasil skor pada tes.
A.
Sejarah dan Perkembangan The WAIS
Pada
awalnya, the WAIS merupakan the Wechsler-Bellevue Intelligence Scale (WB) pada
tahun 1939. Wechsler menunjukkan bahwa tes inteligensi seperti Stanford-Binet
dirancang untuk mengukur intligensi anak-anak dan untuk beberapa kasus yang
mencakup orang dewasa tidak dapat sesuai. Terlebih untuk tes verbal yang
standarnya kurang sesuai. Untuk
mengatasi masalah ini, Wechsler membuat
alat tes yang bernama Wechsler-Bellevue, dimana item-itemnya banyak yang
diadopsi dari Tes Binet-Simon, the Army Alpha, yang biasa digunakan untuk tes
militer pada Perang Dunia I dan dari tes-tes lainnya. Pada tahun 1955,
Wechsler-Bellevue diganti dengan the WAIS,yang direvisi kembali pada tahun 1981
dengan nama WAIS-R, dan direvisi kembali menjadi the WAIS-3 pada tahun 1997.
Item-item pada skala the WAIS diambil dari variasi tes, seperti pengalaman
klinis dan dari proyek-proyek pilot. Item-item tersebut dipilih dengan dasar
validitas empiris walaupun seleksinya didasari oleh Wechsler’s theory of the nature intelligence. Revisi the WAIS-R
merupakan usaha untuk memodernisasi konten alat tes, seperti, informasi baru item
subtes yang mengacu pada orang kulit hitam yang terkenal dan kepada
wanita,untuk mengurangi ambiguitas, untuk mengurangi pertanyaan-pertanyaan
kontroversial, untuk memfasilitasi administrasi, dan menilai dengan tepat
sesuai dengan perubahan pada Manual.
|
Skala verbal
|
Deskripsi
|
|
Information
|
Mengukur tingkat
pengetahuan. Berisi pertanyaan yang biasanya orang dewasa tahun. Contoh :
Dari mana arah matahari terbit?
|
|
Digit Span
|
Berisi pengulangan angka
dari 3 sampai 9 digit dan 2 sampai 8 digit mundur. Untuk menilai memory dan
efek dari kekacauan kecemasan.
|
|
Vocabulary
|
Untuk menilai kosakata.
|
|
Comprehension
|
Untuk menilai pengetahuan
umum dan penarikan kesimpulan
|
|
Arithmetic (T)
|
Untuk menilai tingkat
konsentrasi. Mengatasi masalah pada anak-anak sekolah dasar.
|
|
Similarities
|
Untuk mengukur penilaian
abstrak (bagaimana 2 hal berkaitan atau berhubungan)
|
Table 5–1. The WAIS-R subtests
|
Performance scale
|
Deskripsi
|
|
Picture Completion
|
Tes dengan gambar-gambar yang ada bagian-bagian
yang hilang. Untuk mengukur kecakapan terhadap detail-detail/ketelitiansdf
|
|
Picture Arrangement (T)
|
Satu set gambar-gambar yang disusun menjadi sebuah
cerita. Mengukur kemampuan membuat perencanaan.
|
|
Block Design (T)
|
Sebuah desain untuk menyusun blok-blok yang penuh
warna. Mengukur pertimbangan secara non lisan
|
|
Object Assembly (T)
|
Desain yang menyediakan objek-objek yang familiar
seperti tangan, untuk disusun. Menilai kemampuan melihat hubungan dan membuat
menjadi satu bagian
|
|
Digit Symbol (T)
|
Mengukur pertimbangan visual-motor. Dengan cara
memasangkan 9 simbol dengan 9 digit angka sesuai dengan urutan yang tersedia
|
B.
Norm
Sampel
normatif terdiri dari sekitar 1.900
individu sebagai representatif dari berbagai ras, dan wilayah tempat tinggal
yang berbeda. orang-orang ini didistribusikan secara merata di sembilan level
umur, dari usia 16-17 , umur 70-74, dan
dewasa normal, dan penyandang kondi kejiwaan atau fisik yang parah.
C.
Pattern
analysis
Penggunaan
skala Wechsler telah menghasilkan sejumlah besar informasi diantaranya :
analisi pola, makna dari perbedaan antara skor skala subteks atau antara IQ
verbal dan kinerja. Contohnya kita dapat mengharapkan IQ seseorang dan kinerja
IQ Verbal menjadi cukup mirip. Pola kinerja mungkin berhubungan dengan beberapa
kondisi diagnostik. Sebagai contoh, kinerja menghitung jauh lebih tinggi dari
kemampuan kosakata mungkin hal ini
menunjukkan belahan otak kiri mengalami penurunan kinerja otak kiri.
(Haynes&Bensch,1981). Wechler (1941) berpendapat bahwa perbedaan besar dari
dua titik skala rata-rata subset orang yang signifikan mencerminkan beberapa
kelainan. Bagian sulit dari analisi pila adalah perbedaan antara subyek yang
diperoleh oleh salah satu individu mungkin mencerminkan kondisi diagnostik yang
rendah seperti objek majelis dan picture arrangement.
D.
Factor
Structure
Apakah
tes Wechsler mengukur g, dua atau tiga faktor, adalah sebuah isu yang sampai
sekarang belum dapat dipecahkan. Studi dari analisis faktor sepertinya
menyatakan bahwa ada satu faktor umum dalam WAIS, yang dinamakan ‘general
reasoning’. Namun, banyak juga yang menemukan dua sampai tiga faktor penting
lainnya, yang disebut ‘verbal comprehension’, ‘performance’, dan ‘memory’.
WAIS-R juga telah difaktor-analisiskan dan hasilnya juga kurang jelas. Naglieri
dan A.S Kaufman (1983) menampilkan enam faktor yang dianalisis menggunakan
metode yang berbeda. Metode yang bervariasi menghasilkan dari satu sampai empat
faktor, tergantung dari kelompok umur. Penulis menyimpulkan bahwa interpretasi
yang paling bisa dipertahankan adalah dua faktor, Verbal dan Performance, dan
diikuti dengan tiga faktor lain, yaitu: Verbal, Performance, dan Freedom from
distractibility.
Penggunaan
tes lebih ringkas yang menjadi aspek yang bernilai dari tes WAIS, dinamakan
experimental clinical situation, dimana perilaku subjek dapat diobservasi
dibawah kondisi yang standar. Hal itu secara umum disetujui bahwa tes yang
lebih ringkas tersebut seharusnya hanya digunakan sebagai tes seleksi
dibandingkan sebagai prosedur diagnostik atau asesmen atau penelitian dimana
perkiraan intelegensi yang lebih dalam.
E. Group Administration
Meskipun
tes Wechsler adalah tes yang diujikan per individu, beberapa investigator
berusaha untuk mengembangkan tes ini ke dalam bentuk kelompok, dengan memilih
bagian yes yang khusus dan mengubah prosedur pengontrolan sehingga sekelompok
orang dapat diuji secara serentak. Hasil dari pengontrolan ini secara umum
berkorelasi dari rentang 0,80 sampai 0,90 dengan standar pengontrolan.,
meskipun lagi menyatakan bahwa data observasi yang kaya dapat dikumpulkan dari
pengontrolan per individual.
F. Examiner Error
Slate
dan Hunnicut (1988) mengajukan beberapa alasan yang dapat menjelaskan adanya
kesalahan penguji dalam skala Wechsler, yaitu:
1. kurangnya
training dan dan kurangnya prosedur instruksional
2. ambiguitas
dalam tes manual, kurang jelasnya penjelasan tentang pemberian skor, dan
kurangnya instruksi yang lebih spesifik yang akhirnya mengambigukan respon
3. kecerobohan
penguji dalam penghitungan maupun pengontrolan
4. kesalahan
yang disebabkan karena perbedaan antara penguji dan yang diuji
5. masalah
pekerjaan dari penguji
G. Criticism
Meskipun
tes Wechsler sering digunakan, ada banyak kritik dalam kepustakaannya. G. Frank
(1983) contohnya, menyatakan tes Wechsler seperti dinosaurus yang terlalu besar
dan tidak dalam jalur konseptualisasi tertentu dari psikometrik dan
inteligensi; ia juga berpendapat tes ini sebaiknya dihapus. Namun begitu,
WAIS-R telah digunakan secara luas, baik dalam praktek klinis maupun
penelitian, dan banyak keuntungan yang telah terbukti dari tes ini. Contohnya,
berlawanan dengan pendapat umum, satu penemuan umum dari tes Wechsler adalah
tes ini tidak memiliki bias sistematis yang berlawanan dengan kelompok
minoritas.
Keuntungan:
-Mencakup rentang
umur 16-74 tahun
-Penyelesaian manual WAIS-R
dapat mencangkup standar pengukuran kesalahan
-Skalanya memiliki
konten dan struktur validitas
-Dapat digunakan
untuk berbagai instansi
-Reliabilitas tinggi
-Dapat menghasilkan
sejumlah besar informasi diantaranya : analisi pola, makna dari perbedaan
antara skor skala subteks atau antara IQ verbal dan kinerja
-Tes ini tidak
memiliki bias sistematis yang berlawanan dengan kelompok minoritas
Kelemahan:
Tes ini terlalu
besar dan tidak dalam jalur konseptualisasi
tertentu dari
psikometrik dan inteligensi serta adanya
examiner error.
TES IST (Inteligence Structure Test)
A.
Sejarah Perkembangan Tes IST (Intelligenz Struktur Test)
Tes IST merupakan salah satu tes yang
digunakan untuk mengukur inteligensi individu. Tes ini dikembangkan oleh Rudolf
Amthauer di Frankfurt, Jerman pada tahun 1953. Amthauer mendefinisikan
inteligensi sebagai keseluruhan struktur dari kemampuan jiwa-rohani manusia
yang akan tampak jelas dalam hasil tes. Intelegensi hanya akan dapat dikenali
(dilihat) melalui manifestasinya misalnya pada hasil atau prestasi suatu tes.
Berdasarkan pemikiran ini Amthauer menyusun sebuah tes
yang dinamakan IST dengan hipotesis kerja sebagai berikut:
“Komponen dalam struktur tersebut tersusun secara
hierarkis; maksudnya bidang yang dominan kurang lebih akan berpengaruh pada
bidang-bidang yang lain; kemampuan yang dominan dalam struktur intelegensi akan
menentukan dan mempengaruhi kemampuan yang lainnya.”
Pandangan
Amthaeur pada dasarnya didasari oleh teori faktor, baik itu teori bifaktor,
teori multifaktor, model struktur inteligensi Guilford dan teori hirarki
faktor. Berdasarkan teori faktor, untuk mengukur inteligensi seseorang
diperlukan suatu rangkaian baterai tes yang terdiri dari subtes-subtes. Antara
subtes satu dengan lainnya, ada yang saling berhubungan karena mengukur faktor
yang sama (general factor atau group factor), tapi ada juga yang tidak
berhubungan karena masing-masingnya mengukur faktor khusus (special factor).
Sedangkan kemampuan seseorang itu merupakan penjumlahan dari seluruh skor subtes-subtes.
Maka Amthauer menyusun IST sebagai baterai tes yang terdiri dari 9 subtes.
B.
Perkembangan Tes IST
Karakteristik dari baterai tes Amthauer
menunjukkan adanya suatu interkorelasi yang rendah antar subtesnya (r=0.25) dan
korelasi antara subtes dengan jumlah (keseluruhan subtes) yang rendah pula
(r=0.60).
Semenjak diciptakan, IST terus dikembangkan oleh Amthauer
dengan bantuan dari para koleganya, berikut adalah perkembangan tes IST dari
tahun 1953 hingga tahun 2000-an.
Tes IST 1953
Tes IST yang pertama ini pada awalnya hanya
digunakan untuk individu usia 14 sampai dengan 60 tahun. Proses penyusunan
norma diambil dari 4000 subjek pada tahun 1953.
Tes IST 1955
Tes IST merupakan pengembangan dari IST 1953,
pada IST 1955 rentang usia untuk subjek diperluas menjadi berawal dari umur 13
tahun. Subjek dalam penyusunan norma bertambah menjadi 8642 orang. Pada tes ini
sudah ada pengelompokan jenis kelamin dan kelompok usia.
Tes IST 1970
Berdasarkan permintaan dan tuntutan pengguna
yang menyarankan pengkoreksian dengan mesin juga pengembangan tes setelah
penggunaan lebih dari 10 tahun, maka disusunlah IST 70. Dalam IST 70 ini tidak
terlalu banyak perubahan, tes ini memiliki 6 bentuk, setiap pemeriksaan
dilakukan 2 tes sebagai bentuk parallel; yaitu A1 dan B2, atau C3 dan D4. Dua
bentuk lainnya untuk pemerintah dan hanya bagi penggunaan khusus. Pada IST 70,
rentang kelompok usia diperluas menjadi berawal dari 12 tahun. Disamping itu
telah ditambah tabel kelompok dan pekerjaan. Namun demikian, pada IST 70 terdapat
kekurangan yaitu penyebaran bidang yang tidak merata dan menggunakan kalimat
dalam subtes RA sehingga jika subjek gagal dalam subtes ini dapat dimungkinkan
karena tidak mampu mengerjakan soal hitungannya atau tidak mengerti kalimatnya.
Tes IST 2000
Sebagai koreksi dari IST 70, pada IST 2000
tidak terdapat soal kalimat pada soal hitungan.
Tes IST 2000-Revised
Pada IST 2000-R ini terdapat beberapa
perkembangan subtes juga penambahan subtes. IST ini terdiri dari 3 modul, yaitu
sebagai berikut:
Grundmodul-Kurzform (Modul Dasar-Singkatan); terdiri dari
subtes : SE, AN, GE, RE, ZR, RZ, FA, WU, dan MA.
Modul ME: terdiri dari subtes ME Verbal dan ME
Figural
Erweiterungmodul (Modul menguji pengetahuan); terdiri
dari subtes Wissentest (tes pengetahuan)
IST yang digunakan di Indonesia adalah IST hasil adaptasi
Fakultas Psikologi Universitas Padjajaran Bandung. Adaptasi dilakukan kepada
IST-70. Tes ini pertama kali digunakan oleh Psikolog Angkatan Darat Bandung,
Jawa Barat (Polhaupessy, dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Fungsi dan Tujuan IST
Tes ini dipandang sebagai gestalt
(menyeluruh), yang terdiri dari bagian- bagian yang saling berhubungan secara
makna (struktur). Dimana struktur intelegensi tertentu meggambarkan pola kerja
tertentu, sehingga akan cocok untuk profesi atau pekerjaan tertentu.
Berdasarkan hal tersebut IST umum digunakan untuk memahami diri dan
pengembangan pribadi, merencanakan pendidikan dan karier serta membantu
pengambilan keputusan dalam hidup individu.
Subtes-subtes dalam IST
IST terdiri dari sembilan subtes yang keseluruhannya
berjumlah 176 aitem. Masing-masing subtes memiliki batas waktu yang
berbeda-beda dan diadministrasikan dengan menggunakan manual (Polhaupessy,
dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Sembilan subtes dalam IST, yaitu:
a. SE: melengkapi kalimat. Pada subtes ini yang diukur
adalah pembentukan keputusan, common sense (memanfaatkan pengalaman masa lalu),
penekanan pada praktis-konkrit, pemaknaan realitas, dan berpikir secara
berdikari/ mandiri.
b. WA: melengkapi kalimat. Pada subtes ini akan diukur
kemampuan bahasa, perasaan empati, berpikir induktif menggunakan bahasa, dan
memahami pengertian bahasa.
c. AN: persamaan kata. Pada subtes ini yang diukur adalah
kemampuan fleeksibilitas dalam berpikir, daya mengkombinasikan, mendeteksi dan
memindahkan hubungan- hubungan, serta kejelasan dan kekonsekuenan dalam
berpikir.
d. GE: sifat yang dimiliki bersama. Pada subtes ini hal yang
akan diukur adalah kemampuan abstraksi verbal, kemampuan untuk menyatakan
pengertian akan sesuatu dalam bentuk bahasa, membentuk suatu pengertian atau
mencari inti persoalan, serta berpikir logis dalam bentuk bahasa.
e. RA: berhitung. Dalam subtes ini aspek yang dilihat adalah
kemampuan berpikir praktis dalam berhitung, berpikir induktif, reasoning, dan
kemampuan mengambil kesimpulan.
f. ZR: deret angka. Dalam subtes ini akan dilihat bagaimana
cara berpikir teoritis dengan hitungan, berpikir induktif dengan angka-angka,
serta kelincahan dalam berpikir.
g. FA: memilih bentuk. Pada subtes ini akan mengukur
kemampuan dalam membayangkan, kemampuan mengkonstruksi (sintesa dan analisa),
berpikir konkrit menyeluruh, serta memasukkan bagian pada suatu
keseluruhan.
h. WU: latihan balok. Pada subtes ini hal yang akan diukur
adalah daya bayang ruang, kemampuan tiga dimensi, analitis, serta kemampuan
konstruktif teknis.
i. ME: latihan simbol. Subtes ini mengukur daya ingat,
konsentrasi yang menetap, dan daya tahan.
Skoring dan
Interpretasi Tes IST
Skoring
Tahap skoring yang digunakan untuk setiap
subtes adalah dengan memeriksa setiap jawaban dengan menggunakan kunci jawaban
yang telah disediakan. Untuk semua subtes (SE, WA, AN, RA, ZR, FA, WU,
& ME), kecuali subtes 04-GE, setiap jawaban benar diberi nilai 1 dan untuk
jawaban salah diberi nilai 0. Khusus untuk subtes 04-GE, tersedia nilai 2, 1,
dan 0; karena subtes ini berbentuk isian singkat maka nilai yang akan
diberikan tergantung dengan jawaban yang diberikan oleh subjek.
Total nilai benar yang sesuai dengan kunci jawaban
merupakan Raw Score (RW); nilai ini belum dapat diinterpretasi sesuai dengan
norma yang digunakan. Nilai RW yang sudah dibandingkan dengan norma disebut
dengan Standardized Score (SW). Nilai SW inilah yang dapat menjadi materi untuk
tahap selanjutnya, yaitu interpretasi. Adapun norma yang digunakan adalah sesuai
dengan kelompok umur subjek.
Interpretasi
Setelah didapatkan Standardized Score, maka
tahap interpretasi dapat dilakukan. Kesembilan subtes saling berkaitan,
sehingga harus dilakukan semuanya dan interpretasinya harus dilakukan secara
keseluruhan (Amthauer dalam Diktat Kuliah IST UNPAD, 2009).
Interpretasi yang dapat dilakukan dari tes IST adalah
sebagai berikut:
Taraf kecerdasan. Taraf kecerdasan didapat dari total SW.
Nilai ini dapat diterjemahkan menjadi Intelligent Quotient (IQ). Nilai ini dapat
menggambarkan perkembangan individu melalui pendidikan dan pekerjaan. Nilai ini
perlu dihubungkan dengan latar belakang sosial serta dibandingkan dengan
kelompok seusianya. Dimensi Festigung-Flexibilität. Dimensi
Festigung-Flexibilität menggambarkan corak berpikir yang dimiliki oleh subjek.
Dimensi Festigung-Flexibilität merupakan dua
kutub yang ekstrim, Keduanya menggambarkan corak berpikir yang ekstrim pula.
Kutub Festigung memiliki arti corak berpikir yang eksak, sedangkan kutub
Flexibilität memiliki arti corak berpikir yang non-eksak. Corak berpikir ini
merupakan hasil perkembangan (pengalaman) individu yang akan semakin mantap ke
salah satu kutub seiring bertambahnya usia. Cara menentukan seseorang subjek
apakah memiliki kecenderungan Festigung atau Flexibilitat adalah dengan
membandingkan nilai GE+RA dengan nilai AN+ZR. Jika nila GE+RA lebih besar maka
subjek memiliki kecenderungan Festigung, sebaliknya jika nilai AN+ZR lebih
besar maka subjek memiliki kecenderungan Flexibilitat.
Profil M-W. Profil M-W menggambarkan cara berpikir,
apakah verbal-teoritis atau praktis-konkrit. Untuk mendapatkan profil dalam
bentuk huruf M atau W ini dapat dilihat dari 4 subtes pertama (SE, WA, AN, GE)
yang tampak pada grafik. Jika grafik menunjukkan bentuk huruf M pada 4 subtes
pertama maka profilnya adalah M (verbal-teoritis), jika yang tampak adalah
bentuk huruf W maka profilnya adalah W (praktis-konkrit).
TES PM (Progresive
Matrices)
Sejarah Tes PM
Raven Progressive Matrices (sering disebut
sebagai Raven Matriks) atau RPM adalah tes kelompok nonverbal biasanya
digunakan dalam pengaturan pendidikan. Tes ini merupakan tes yang paling
populer dan paling umum, diberikan kepada kelompok anak dari 5 tahun sampai
orangtua. Berdasarkan teori dari Sperman yang disebut dengan Teori Dua Faktor
yang terdiri dari dua kemampuan mental yaitu inteligensi umum“General Factor =
faktor g” dan kemampuan spesifik “Special Factor = faktor s”. Menurut Spearman bahwa kemampuan seseorang bertindak dalam setiap
situasi sangat bergantung pada kemampuan umum dan kemampuan khusus. Dari teori
tersebut, J.C. Raven dari Inggris (1938) menciptakan tes “PM” guna mengukur
inteligensi umum. Dikontruksi di Inggris untuk rekrutmen tentara dari rakyat
sipil, karena pada zaman itu banyak rakyat Inggris yang belum berpendidikan.
Karakteristik soal
Tes PM
Terdiri dari suatu set matriks atau susunan
bagian dari desain. Pada setiap persoalan terdapat suatu bagian yang
dihilangkan pada ujung kanan bawah dari desain tersebut. Tugas subyek adalah
memilih dari sejumlah alternatif jawaban yang tersedia yang cocok untuk mengisi
bagian yang hilang. Soal yang mudah hanya menuntut ketepatan dalam
diskriminasi. Sedangkan soal yang lebih sulit melibatkan kemampuan analogi,
pergantian pola serta hubungan logis. Jadi dapat disimpulkan bahwa tes “PM”
berguna untuk mengukur kemampuan seseorang untuk berpikir non verbal dalam
bentul simbol-simbol abstrak, mengukur bakat keruangan, penalaran induktif dan
ketepatan perseptual dan faktor lain yang mempengaruhi performa
Berikut adalah contoh dari soal tes PM
Perkembangan tes “PM”
Tes ini memiliki tiga bentuk tes yang berbeda
derajat kesulitannya sehingga dapat digunakan bagi bermacam populasi subyek.
Adapun ketiga jenis tersebut adalah sebagai berikut :
1. “CPM” (Coloured Progresive Matrices)
Dimana jenis tes ini memiliki norma persentil
bagi anak yang berusia 5 sampai 11 tahun, dan norma tambahan bagi usia 60
sampai 89 tahun dan yang terbelakang mental. Tes CPM terdiri dari 36 soal dalam
3 set yaitu :A,AB,dan B. dapat berbentuk buku soal maupun papan
2. “SPM” (Standart Progresive Matrices)
Tes ini baru digunakan pada tahun 1954. Tes
untuk usia 11 sampai 16 tahun, dimana terdiri dari 60 butur soal atau pola
dalam 5 set yaitu :A,B,C,D, dan E, dan masing set terdiri atas 12 butir tes.
Butir-butir soal tersebut disusun dari yang termudah sampai yang tersulit,
dimana kondisi ini menunjukkan bahwa dibutuhkan kapasitas kognitif yang lebih
besar untuk memasukkan dan menganalisa informasi di dalam otak kita.
SPM tidak memberikan suatu angka IQ akan
tetapi menyatakan hasilnya dalam tingkat atau level intelektualitas dalam
beberapa kategori, menurut besarnya skor dan usia subyek yang dites, yaitu :
Grade I : kapasitas intelektual superior,
Grade II : Kapasitas intelektual di atas rata-rata, Grade III : Kapasitas
intelektual rata-rata, Grade IV ; Kapasitas inteletual di bawah rata-rata,
Grade V : Kapasitas intelektual terhambat.
3. “APM” (Advanced
Progresive Matrices)
Tes ini disusun oleh J.C. Raven pada tahun
1943, tes ini digunaka untuk remaja dan orang dewasa yang diprediksikan
memiliki kemampuan di atas rata-rata. Terdiridari 2 set dan bentuknya non
verbal. Set 1 disajikan dalam buku tes yang terdiri dari 12 soal dan set 2
terdir dari 36 soal. Variasi soal disusun mulai dari yang mudah sampai yang
paling susah. Digunakan untuk mengatur tingkat inteligensi, disamping untuk
tujuan analisis klinis
Dengan demikian, dapat
dilihat bahwa aspek- aspek yang diungkapkan dalam tes Raven Progressive
Matrices adalah :
1. Daya abstraksi, yaitu kemampuan menangkap, membayangkan,
dan menganalisa suatu hal yang dilihat atau ditangkap indera kita secara
abstrak
2. Berpikir logis/ menalar, yaitu kemampuan untuk menarik
kesimpulan yang sah menurut aturan logika dan dapat membuktikan bahwa
kesimpulan itu benar sesuai dengan pengetahuan sebelumnya
3. Berpikir sistematis, yaitu kemampuan untuk mengerjakan
atau menyelesaikan suatu tugas sesuai dengan urutan, tahapan, langkah-langkah,
atau perencanaan yang tepat, efektif, dan efisien
4. Kecepatan & ketelitian, yaitu kemampuan untuk
menangkap, mengolah informasi dengan cepat dan teliti
5. Konsentrasi,yaitu kemampuan untuk memberikan atensi atau
perhatian terhadap suatu hal dalam suatu waktu dengan baik
Waktu lamanya Tes “PM”
CPM dan SPM memiliki waktu pengerjaan 25
menit sedangkan APM untuk set 1 waktunya 5 menit dan untuk set 2 waktunya 25
menit
Mamfaat Tes “PM”
·
Tes PM ini bermamfaat
untuk mengukur inteligensi umum
·
Tes ini merupakan tes
yang tidak pengaruhi budaya (Culture Fair Tes) sehingga dapat digunakan tanpa
dipengaruhi faktor bahasa (non verbal)
·
Tes PM mudah
pengadministrasian dan penyekorannya
Skoring dalam tes PM
·
Hitung jumlah jawaban
benar dari orang tersebut
·
Lihatlah norma untuk
mengetahui golongan dari orang tersebut
·
Soal dari RPM disusun
berdasarkan derajat kesulitan,sehingga distribusi kesalahan menunjukkan
optimalisasi proses kerja dan derajat kemampuan peserta
CFIT (Culture Fair Intelligence Test)
A.
Sejarah CFIT
Culture-Fair Intelligence Test dari Cattel pertama kali
dikeluarkan pada tahun 1944 dan satu-satunya percobaan yang pertama
mengembangkan kecerdasan yang diukur bebas dari pengaruh budaya. Tes tersebut
dianggap menjadi ukuran “g” (measure of “g”) dan mencerminkan teori Cattel
yaitu Fluid Intelligence dan Crystallized Intelligence. Fluid Intelligence
terdiri dari kemampuan yang nonverbal, yang tidak bergantung pada pengalaman
yang spesifik, dan karena itu relatif bebas dari budaya. Pada dasarnya, Fluid
Intelligence adalah kapasitas mental umum untuk pemecahan masalah, terutama
pada situasi baru. Crystallized Intelligence mengacu pada skill yang diperoleh
dan pengetahuan, mencerminkan khususnya pendidikan pengalaman, dan karena itu
berhubungan dengan budaya. Cystallized Intelligence dikembangakan melalui
penggunaan Fluid Intelligence, dan faktanya, keduanya sangat berhubungan.
B.
Perkembangan CFIT
Test Cattel terdiri dari tiga skala : Skala I untuk usia
4 sampai 8, skala II untuk usia 8 sampai 12 dan “orang dewasa rata-rata”, dan
skala III untuk siswa SMA dan orang dewasa unggul. Skala I terdiri dari 8
substansi yang melibatkan labirin, menyalin simbol, mengidentifikasi gambar
yang sama, dan tugas non verbal lainnya. Skala I dan II keduanya terdiri dari 4
subtes : (1) seri subtest dimana urutan gambar dilengkapi dengan memilih
diantara pilihan respon, (2) klasifikasi subtes, dimana responden memilih satu
gambar yang berbeda dari gambar yang lain, (3) subtes Matriks yang membutuhkan
penyelesaian matriks atau pola, dan (4) ketentuan subtes, yang mengharuskan
responden untuk mengidentifikasi beberapa gambar geometris memenuhi kondisi
tertentu. Dua form yang tersedia, form A dan B, yang dikombinasi dan diberikan
sebagai skala tunggal dalam proses standardisasi.
Di
sisi lain, ada lembaga besar sastra yang menyarankan bahwa culture-fair test
seperti Cattel memenuhi tidak hanya teoritis dan kepedulian sosial tetapi juga
kebutuhan praktis.
Penulis
menyimpulkan bahwa Cattel adalah ukuran yang lebih baik dari inteligensi untuk
kelompok minoritas daripada WISCR, karena hal tersebut mengurangi efek bias
budaya dan menyajikan gambaran “yang lebih akurat” dari kapasitas intelektual
mereka
PENUTUP
Kesimpulan
Adanya Tes
Inteligensi dari WB,WAIS,IST,PM, dan CFIT membantu berbagai instansi baik
dibidang pemerintahan maupun pendidikan, khususnya mengenai inteligensi secara
umum. Berikut adalah tujuan dari setiap tes inteligensi : Tujuan test WAIS
adalah untuk mengungkapkan inteligensi orang dewasa, disisi lain pemisahan
verbal dan performance IQ juga bertujuan untuk keperluan diagnosa jika misalya
seseorang mendapat kesulitan dalam bidang verbal atau cultural. Dimana verbal à informasi pemahaman aritmatika da persamaan kosakata
(selisih digit); performa à mendesain balok,
menyempurnakan gambar, merangkai objek ,
dan selisih digit. Mamfaat dari tes PM dan CFIT adalah tes inteligensi umum yang tidak dipengaruhi
budaya sehingga dapat digunakan oleh seluruh individu di dunia (non verbal).
Tes IST memiliki striktur inteligensi tertentu oleh
karena itu akan cocok untuk profesi atau pekerjaan tertentu, yang meliputi
pemahaman diri, merencanakan pendidikan,serta pengambilan keputusan.
Bagi
guru à test ini dapat digunakan untuk mendiagnosa kesukaran
pelajaran dan mengelompokkan siswa yang memiliki kemampuan yang setara,
menganalisis berbagai masalah yang dialami murid
Bagi
konselor à tes inteligensi dapat digunakan untuk membuat diagnosa,
dan juga sebagai media untuk mengawali proses konseling
DAFTAR PUSTAKA
Domino,
George. 2006. Psychological Testing an
Indruction. New York. Cambridge Univ.
Groth,
Marnat. 2003. Psychological Assessment.
New Jersey. University of Minnesota
Jadi, Tes IQ mana yang paling akurat yang paling sedikit / tidak membutuhkan pengetahuan umum? Yang benar2 menguras Logika dan Kemampuan Kognitif Manusia?
BalasHapusTerima kasih.. artikelnya sangat bermanfaat untuk saya belajar :)
BalasHapusSukron jazakaallah khairon min semoga bermanfaat untuk kelanjutan tugaels ana
BalasHapus